Connect with us

Kolom

Berfikir dan Bertindak Out Of The Box

Untuk bisa maju, kita harus belajar melakukan sesuatu di luar kebiasaan, belajar melakukan sesuatu di luar mainstream.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Saya memiliki seorang teman, sebut saja Fulan, yang sepertinya memiliki idealisme sangat tinggi. Tentu ini merupakan fenomena langka di jaman sekarang, karena tokh hanya sedikit orang yang idealismenya tidak tergerus keadaan. Meskipun idealis, teman saya ini terjebak pada pola fikir formal. Segala sesuatu harus mengacu pada aturan yang ada. Rujukan dan referensinya juga cukup banyak, saking banyaknya sehingga kadangkala si Fulan sudah tidak sadar bahwa referensi yang dijadikan acuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Contohnya pada saat kita berbicara tentang tata cara pemilihan kepala daerah, si Fulan masih beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah telah diubah menjadi pemilihan tidak langsung atau melalui DPRD. Padahal revisi undang undang tentang pilkada itu telah direvisi lagi melalui PERPU dan dikembalikan ke pemilihan langsung.

Fenomena seperti si Fulan tadi, memang sering kita temui dalam masyarakat kita. Ada orang orang yang berfikirnya terlalu formal sehingga mereka terjebak pada rutinitas. Orang orang seperti ini  ibarat sedang hidup mengitari lingkaran yang sama, sehingga sebenarnya ia tidak beranjak ke manapun. Ada kata bijak yang menyatakan bahwa jika kita melakukan hal yang sama setiap hari, maka kita hanya akan  menghasilkan hal yang sama, pada pusaran, bahkan titik yang sama.

Untuk bisa maju, kita harus belajar melakukan sesuatu di luar kebiasaan, belajar melakukan sesuatu di luar mainstream. Belajar berfikir dan berbuat out of the box. Berfikir dan bertindak membuat kita dapat melompat jauh ke depan. Dalam kata lain, berfikir dan bertindak di luar mainstream adalah upaya kita untuk tampil beda dalam artian positif, meskipun kadang hal itu menjadikan kita tampak aneh. Contohnya ketika saya mencoba merubah pola kegiatan KKN atau Kuliah Kerja Nyata Universitas Muhammadiyah Palangkaraya sekitar tahun 2007 yang lalu. Saat itu, saya coba tawarkan perubahan konsep KKN, dari KKN di pedesaan, menjadi KKN yang dilaksanakan dengan cara menata dan membangun amal usaha Muhammadiyah. Hal itu saya usulkan karena saya melihat bahwa kegiatan KKN mahasiswa selama ini telah terjebak pada rutinitas.

Akibatnya adalah, mahasiswa yang seharusnya menjadi motivator pembangunan, telah berubah menjadi tenaga kerja sukarela, sementara masyarakat cenderung pasif dan menjadi penonton. Dengan kondisi demikian, tujuan KKN tentu tidak tercapai secara optimal, Saat saya usulkan ide untuk menghapus KKN ke pedesaan, banyak sekali kritikan pedas yang disampaikan terhadap pemikiran itu, karena dianggap telah melenceng dari konsep pengabdian pada masyarakat.

Tetapi bagi saya, menata amal usaha Muhammadiyah adalah juga mengabdi pada masyarakat, karena amal usaha Muhammadiyah adalah milik masyarakat. Pada saat itu, saya mencoba berfikir di luar mainstream, sehingga tampak aneh. Tetapi waktu telah membuktikan bahwa, pola KKN dengan menata amal usaha Muhammadiyah telah menunjukkan manfaat luarbiasa, antara lain dengan berdirinya banyak amal usaha Muhammadiyah, sehingga banyak masyarakat terlayani pendidikannya.

Jadi, mari kita belajar berfikir dan bertindak out of the box, dengan catatan dapat memberi kemanfaatan bagi semua.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending