Connect with us

Kolom

Bukan Soal Jam Kerja

Ini soal bagaimana kita mengisinya menjadi aktiviatas bermakna. Itulah cara hidup ber-Muhammadiyah yang benar.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Saya masuk dalam lingkungan organisasi Muhammadiyah, seingat saya, adalah sejak tahun 1990. Waktu itu saya diminta menjadi guru matematika honorer di SMA Muhammadiyah Palangka Raya,  khususnya untuk pagi hari. Sedangkan pada sore dan malam hari, saya menjadi staf perpustakaan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Walaupun demikian, saya mengenal dan tertarik dengan Muhammadiyah sejak tahun 1986, saat saya masih duduk di kelas II SMA. Awalnya tertarik untuk sholat di masjid At-Taqwa Buntok, yang merupakan mesjid Muhammadiyah. Tetapi tertariknya lebih karena faktor jarak, sebab untuk sholat di masjid lain, saya harus melalui mesjid At-Taqwa milik Muhammadiyah tersebut.

Selama terlibat dalam persyarikatan Muhammadiyah,  saya  melihat bahwa  modal utama persyarikatan Muhammadiyah untuk bisa maju adalah keikhlasan dalam bekerja. Orang-orang yang mengelola amal usaha Muhammadiyah yang kemudian  maju pesat, selalu berawal dari pemikiran dan usaha yang ikhlas dalam membangun dan mengembangkan amal usaha Muhammadiyah. Orang-orang seperti ini, tanpa mengenal batasan waktu dan jam kerja, mewakafkan diri dan potensinya untuk kemajuan amal usaha persyarikatan. Merekalah orang-orang yang bekerja penuh waktu dalam artian sebenar-benarnya, karena 24 jam dalam setiap waktu harinya, digunakan untuk memikirkan dan mengembangkan amal usaha.

Sayangnya, komitmen untuk mewakafkan dirinya bagi kemajuan amal usaha persyarikatan, saat ini mulai luntur dari para pengelolanya. Atas alasan profesionalisme, maka adanya batasan jam kerja dianggap sebagai katup pembatas, yang mengakibatkan  kreativitas dan inovasinya berhenti sesuai jam kerja yang telah ditetapkan. Bahkan saya kadang miris melihat para karyawan di amal usaha milik persyarikatan, yang mengantri hanya untuk menekan tombol daftar hadir elektronik, seolah-olah waktu jam kerja tersebut tidak boleh terlewat sedikitpun.

Seharusnya, ini bukan soal jam kerja saja. Ini soal bagaimana mengisi waktu pada jam-jam kerja yang telah ditentukan, Apakah orang yang bekerja di amal usaha Muhammadiyah, seperti di UM Palangkaraya ini, telah memanfaatkan waktu dan jam kerja yang telah ditentukan, untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah ? Apakah jam kerja yang berjumlah 8 jam sehari itu, telah bisa digunakan secara bermakna ?

Lebih dari itu, bekerja di Muhammadiyah itu  bukan hanya semata-mata soal jam kerja. Bukan semata-mata kita masuk dan mengisi daftar hadir setiap hari kerja pada pukul 07.30, kemudian pulang pada pukul 16.30. Jika kita memang punya komitmen untuk memajukan amal usaha Muhammadiyah, maka jam kerja itu hanya pembatas waktu, tetapi tidak akan membatasi pikiran, kreativitas dan inovasi kita untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah. Seharusnya, pikiran, kreativitas, dan inovasi kita, jauh melintasi serta melampaui jam kerja itu.

Relevan dengan itu, kalau Anda adalah siswa atau mahasiswa, maka belajar di Muhammadiyah itu bukan hanya sekedar soal jam kuliah, bukan hanya soal Anda memenuhi daftar hadir setiap jam belajar atau jam kuliah. Yang paling penting adalah, apa yang telah Anda dapatkan, atau Anda lakukan, di saat-saat Anda menggunakan jam belajar atau jam kuliah tersebut.

Jadi, keberadaan kita semua di Muhammadiyah itu bukan hanya soal jam kerja, bukan hanya soal jam kuliah. Ini soal bagaimana kita mengisinya menjadi aktiviatas bermakna. Itulah cara hidup ber-Muhammadiyah yang benar.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending