Connect with us

Kolom

Cara Kita Beragama

Menjalankan agama secara kaffah, jangan selalu diartikan sebagai upaya meng-kopi kemudian menerapkan ajaran agama persis seperti pada saat ajaran itu bermula diajarkan oleh penyampainya.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*


Kata seorang ustad teman saya, ada beberapa kategori orang dalam beragama. Ada yang benar-benar beragama, ada yang tidak beragama, serta ada yang beragama separuh. Saya sendiri bingung dengan klasifikasi semacam itu, terutama istilah yang terakhir, yakni beragama separuh. Apakah ada orang yang agamanya hanya separuh? Meskipun demikian, saya berusaha memahami istilah itu.

Pemaknaan saya terhadap kalimat itu menjadi lebih terang ketika saya bertemu dengan seorang yang berpenampilan sangat agamis, sebut saja si Fulan, dengan jambang dan jenggot yang cukup lebat, lengkap dengan jubah panjanganya, di salah satu lounge di bandar udara Sukarno Hatta. Saya tentu tidak kenal dengan orang tersebut, hanya kebetulan duduk pada posisi berhadapan di ruang tunggu eksekutif tersebut. Kami juga tidak bertegur sapa, hanya saling melirik dan mengamati satu sama lain. Dilihat dari penampilannya, tentulah beliau seoràng yang taat beragama. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian saya adalah cara beliau makan.

Jika kita sering memperhatikan cara makan orang orang Arab, yang kabarnya juga merupakan cara makan nabi Muhammad Rasulullah SAW, adalah dengan cara duduk melingkar bersila di lantai  mengelilingi makanan. Tampaknya pak Fulan juga ingin mengamalkan cara makan seperti itu. Sayangnya keadaan di lounge tidak memungkinkan untuk duduk bersila di lantai menghadàpi makanan, sehingga terpaksa beliau bersila di kursi, dengan cara mengangkat dan melipat kedua kaki di atas kursi. Tentu saja sambil menghadapi makanan di atas meja.

Tampak bahwa cara seperti itu merupakan upaya maksimal pak Fulan tadi untuk mengikuti cara makan orang Arab. Sayangnya, beliau tetap menyeruput makanan menggunakan sendok dan garpu, bukannya menggunakan tangan sebagaimana dicontohkan Rasul. Sepertinya  pak Fulan berusaha mengamhil jalan tengah untuk menyesuaikan situasi dan kondisi.

Jika kita anggap bahwa cara makan seperti itu adalah sunnah dan bukan budaya, maka mestinya jangan tanggung-tanggung menjalankannya. Ini tampaknya agak cocok dengan istilah yang digunakan teman saya tadi, yakni beragama separuh. Mungkin maksud teman saya tadi adalah, bahwa di dunia ini, banyak orang yang menjalankan ajaran agamanya tidak secara kaffah, tidak menyeluruh, atau tidak komprehensif. Agama dijalankan hanya pada bagian-bagian tertentu saja, terutama bagian-bagian yang mudah, enak untuk dijalankan, serta tidak memberatkan. Kurang adanya totalitas dalam beragama.

Menjalankan agama secara kaffah, jangan selalu diartikan sebagai upaya meng-kopi kemudian menerapkan ajaran agama persis seperti pada saat ajaran itu bermula diajarkan oleh penyampainya. Jika kaffah diterjemahkan secara sempit seperti itu, maka kita akan menemukan banyak kesulitan dalam penerapan ajarannya, karena kompleksitas masalah kehidupan yang kita alami sekarang jauh berbeda dengan pada masa awal agama disampaikan. Kata kaffah harus diartikan secara kontekstual, lebih kepada pemaknaan dan substansinya, bukan pada arti harfiahnya belaka. Sebagai contoh, jika Nabi Muhammad Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk bersyiwak (menyikat gigi menggunakan kayu Syiwak), maka makna substansinya adalah bahwa kita dianjurkan untuk membersihkan gigi sebelum shalat. Membersihkan gigi itu bisa menggunakan kayu Syiwak, menggunakan sikat gigi, obat kumur, atau semacamnya.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang beragama separuh sebagaimana kata teman saya tadi.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending