Connect with us

Kolom

Dikira Dokter

Kalau Anda orang yang bijak, maka janganlah pernah percaya pada pandangan pertama, karena pandangan pertama bisa begitu menggoda.

Published

on

Jika Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-citanya, maka menjadi dokter adalah salah satu pilihan cita-cita yang banyak disebut. Padahal sebagian besar anak-anak, belum faham betul tentang profesi dokter itu. Anak-anak ingin menjadi dokter lebih karena pengaruh pemahaman tentang penampilan fisik dokter, sebagaimana mereka lihat di media massa. Anak-anak melihat bahwa dokter itu berbaju atau berseragam putih, rapi, dengan stetoskop tergantung di telinga atau di leher. Dan karena penampilan itulah saya pernah dikira sebagai dokter.

Kejadiannya pada tahun 2001, saat ibu angkat saya masuk ICCU Rumah Sakit Dorys Sylvanus Palangka Raya karena sakit jantung. Pada malam itu, sehabis mengajar di kampus, saya langsung menuju Rumah Sakit Dorys Sylvanus Palangka Raya, dengan maksud membesuk ibu angkat saya. Karena buru-buru dan pertimbangan waktu, saya tidak sempat mengganti pakaian, sehingga pakaian putih hitam, lengkap dengan tas hitam berisi bahan ajar, saya tenteng ke rumah sakit.

Sebenarnya, ruang ICCU merupakan area terbatas yang hanya boleh dimasuki dokter dan paramedis yang bertugas saat itu. Cuma karena beberapa petugas yang jaga malam itu saya kenal (tentunya karena hasil silaturahim juga), maka saya agak leluasa bisa keluar masuk ruang ICCU. Ini tentu agak berbeda dengan beberapa orang anggota keluarga pasien yang lain, yang hanya dibolehkan menunggu dan duduk di depan pintu masuk ruang ICCU.

Setelah dua kali keluar masuk menengok ibu angkat saya, saya putuskan untuk pulang. Pada saat keluar ruang ICCU, ada seorang bapak, yang memang tidak saya kenal,  yang mencegat saya di pintu keluar ruang ICCU tersebut. Beliau berkata : “Pak dokter, bagaimana keadaan bapak saya, apakah masih ada harapan?”, katanya lirih. Tampak bahwa bapak ini mengharapkan sekali jawaban dari saya, dan tentu saja saya tidak ingin mengecewakan beliau.

Walaupun saya telah disangka sebagai dokter, dan kenyataannya saya bukan dokter, bahkan saya juga tidak tahu menahu tentang siapa yang dimaksudkan bapak tadi sebagai bapaknya yang sedang menghadapi sakaratul maut di ruang ICCU, akan tetapi tentu kita juga punya kewajiban untuk membahagiakan dan memberi motivasi keluarga pasien. Jadi saya putuskan untuk menjawab : “Insya Allah, tim dokter sedang berupaya, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Bapak dan keluarga berdoa saja” kata saya singkat. Jawaban itu secara spontan muncul, mungkin karena saya beberapa kali menonton sinetron Indonesia yang sering berkisah tentang rumah sakit. Dan jujur, jawaban saya juga tidak bohong, karena sifatnya umum. Tapi yang membahagiakan saya, si bapak kemudian terlihat sumringah, dan sambil berlinang airmata, beliau menjabat tangan saya, dan berkata “Terimakasih dok, terimakasih”. Saya hanya tersenyum. Rupanya saya benar-benar dikira dokter.

Kejadian unik lainnya, saat saya berangkat haji pada akhir Oktober hingga Desember tahun 2006 sebagai TPHD  (Tim Pembimbing Haji Daerah) Kalimantan Tengah. Saat itu saya agak terlambat masuk asrama embarkasi Banjarmasin, sehingga tidak sempat diperkenalkan sebagai TPHD. Jadinya saat minggu pertama berhaji, khususnya di Madinah, sebagian besar jamaah anggota rombongan saya, mengira saya adalah dokter kloter. Kebetulan juga, dokter kloter yang ditunjuk pemerintah hanya satu orang, dan dia kesulitan membagi waktunya karena pemondokan untuk kloter kami di Madinah terpisah-pisah. Akibatnya, setiap saya berkunjung ke kamar-kamar jamaah menanyakan kabar mereka setiap hari, beberapa jamaah mengeluhkan kesehatan mereka, terutama akibat cuaca dingin saat itu. “Pak dokter, ini saya kurang enak badan, agak meriang, dan batuk. Tolong dikasih tahu apa obatnya?” kata salah seorang bapak anggota jamaah haji. Ternyata, lagi-lagi saya dikira dokter.  “Bapak banyak istirahat saja, kerjakan ibadah yang wajib saja dulu, banyak minum air putih. Obat seperti paracetamol bisa bapak minum”, jawab saya.

Untungnya saya suka membaca tentang dunia kedokteran, sehingga ada sedikit bekal pengetahuan tentang obat-obatan. Saat itu, setiap jamaah diminta membawa obat-obat umum yang sering digunakan di tanah air. Selain itu, di setiap kloter disiapkan obat-obatan generik yang biasa digunakan untuk penanganan keluhan kesehatan jamaah  yang tidak terlalu berat, seperti obat pereda nyeri (jenis obat-obatan yang mengandung paracetamol atau acytamenofen). Juga ada beberapa obat batuk.

Alhamdulillah, saat keesokan harinya saya kembali berkunjung ke kamar bapak yang tadi, ternyata beliau sudah merasa sehat. “Terimakasih pak dokter, saran dan obatnya manjur. Sekarang saya merasa lebih baik”, kata si bapak. Sekali lagi, ternyata penampilan saya, bisa menyesatkan, karena saya dikira dokter.

Poin penting yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata penampilan bisa menipu. Kalau Anda orang yang bijak, maka janganlah pernah percaya pada pandangan pertama, karena pandangan pertama bisa begitu menggoda.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Continue Reading
Advertisement

Trending