Connect with us

Kolom

Dikira Tentara

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd

Mungkin betul kata Mario Teguh, dalam talkshow motivasinya di salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu lalu, bahwa 93% persepsi tentang seseorang itu dipengaruhi oleh penampilan fisiknya, sedangkan sisanya sebesar 7% dipengaruhi oleh faktor lain seperti gaya bicara. Artinya, cara kita berpakaian, berpenampilan, akan sangat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap kita. Penampilan bisa mengecoh. Akan tetapi, dari sisi positif, penampilan diri kita juga bisa memperbaiki persepsi orang lain tentang kita.

Saya, yang tergolong memiliki perawakan sedang untuk ukuran orang Asia, yakni dengan tinggi hanya 165 cm, tentu harus menyesuaikan penampilan agar tampak lebih tinggi, misalnya membiasakan diri untuk menggunakan sepatu dengan hak tinggi. Saya suka menggunakan sepatu semi boot atau sepatu lars ala militer. Dan gara-gara sepatu seperti itu saya pernah dikira sebagai aparat kepolisian.

Ceritanya terjadi pada saat saya menempuh perjalanan dari kota Palangka Raya (Kalimantan Tengah) ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Sekitar tahun 2003, kondisi jalan trans Kalimantan yang menghubungkan kedua kota tersebut tidaklah semudah sekarang. Pada saat musim hujan datang, akan selalu  ada beberapa titik jalan yang terputus, baik akibat kebanjiran ataupun karena jalannya amblas, sehingga  semua kendaraan, khususnya roda 4 atau lebih, harus berhati-hati melintas.

Jika ada satu kendaraan terjebak lumpur,  amblas, atau terjebak banjir sehingga mogok di jalan tersebut, maka akan mengakibatkan  antrian kendaraan yang sangat panjang. Dalam kondisi musim hujan yang mengakibatkan banjir, biasanya pemerintah daerah dan penduduk setempat berinisitaif menyediakan kapal ferry sederhana untuk menyeberangi wilayah yang banjir tersebut. Kapal ferry tersebut merupakan rakitan 2 buah perahu kecil bermesin (kelotok) yang diberi lantai sehingga mampu mengangkut 2 kendaraan roda 4 dan beberapa kendaraan roda 2 sekali jalan.

Namun seperti biasanya, karena tidak berimbangnya antara jumlah kapal ferry dengan jumlah kendaraan yang akan diangkut dari kedua sisi jalan yang banjir, maka saat itu terjadi antrean sekitar 1 km. Dalam situasi seperti ini, selalu dibutuhkan kehadiran petugas kepolisian untuk pengaturan lalu lintas dan antrean masuk kapal ferry.

Saya, yang berangkat dari Palangka Raya ke Banjarmasin menggunakan mobil minibus disopiri sendiri bersama seorang teman, sampai di titik penyeberangan yang antreannya mengular sepanjang 1 km dengan keadaan pasrah. Melihat antrean sepanjang  itu, kami perkirakan paling tidak memerlukan waktu 3-4 jam untuk mendapatkan giliran menyeberangkan mobil yang kami kendarai. Karena capek duduk di depan setir menunggu giliran, saya iseng-iseng berjalan menuju tempat penyeberangan dan meminta teman saya untuk menyetir ketika kendaraan kadang-kadang harus bergerak atau dipindahkan perlahan mengikuti antrean.

Di titik penyeberangan, saya melihat ada seorang bintara polisi, dan saya perkirakan berumur sekitar 40 an tahun,  mengatur lalu lintas penyeberangan dan mengatur kendaraan mana yang harus keluar dan masuk ferry penyeberangan. Perlahan saya berjalan mendekati pak polisi ini. Alangkah terkejutnya saya ketika polisi ini, tiba-tiba dengan posisi tegap memberi hormat pada saya, dan berkata : “Siap ndan, apakah komandan juga mau menyeberang?” katanya. Saya menoleh ke sekitar saya, kalau-kalau yang dimaksud oleh pak polisi tadi bukanlah saya. Akan tetapi pak polisi ini tetap pada posisi hormat gerak.

Saya jadi mafhum, bahwa yang dimaksud pak polisi tadi sebagai komandannya adalah saya. Saya menjawab sekenanya saja tetapi juga tegas, “Ya”, jawab saya. Pak polisi menjawab : “Siap ndan, silahkan mobil komandan duluan” katanya. Saya lalu bergegas memberi kode kepada teman saya yang di mobil untuk segera memotong antrian dan menyeberang lebih dulu. Saat itu kami memang ada acara dinas dan mendesak di kantor Kopertis Wilayah XI Kalimantan di Banjarmasin, sehingga harus segera tiba di tempat tujuan.

Selain itu, saya takut kalau pak polisi mengenali lebih jauh tentang saya. Jadi rupanya pak polisi tadi, mungkin salah mengenali saya sebagai komandannya, atau barangkali merasa pernah melihat saya sebagai perwira polisi, karena saat itu kebetulan saya menggunakan sepatu hak tinggi ala polisi, celana coklat mirip seragam dinas polisi, dan rambut cepak potong pendek. Soal rambut itu, saya memang lebih sering memotongnya pendek karena jenis rambut saya yang kaku. Jika dibiarkan panjang akan tampak rambut saya berdiri sehingga kurang rapi.

Jadi, dalam kasus itu, saya diuntungkan karena berpenampilan seperti polisi.

Dalam kejadian lain, saya malah sebagai dikira tentara dari angkatan udara. Kejadiannya pada tahun 2010 di bandara Juanda Surabaya. Saat itu saya sedang transit di bandara Juanda Surabaya menuju bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Saya akan mengikuti Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta. Saya lihat, sebagian besar penumpang di ruang tunggu, adalah mereka yang akan menghadiri muktamar tersebut. Hal itu dapat dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, ada yang menggunakan batik berlambang Muhammadiyah ataupun Aisyiyah.

Pada saat menaiki tangga pesawat menuju Yogyakarta, beberapa ibu Aisyiyah protes kepada petugas airline swasta yang mereka akan naiki, dan berkeras tidak bersedia menaiki pesawat. Alasan utamanya adalah karena mereka takut dan tidak menyangka, bahwa mereka akan diangkut menggunakan pesawat tua. “Ini kan pesawat yang masih menggunakan baling-baling, ini sudah tua, kami ingin pesawat yang seperti itu” kata seorang ibu di samping saya sambil menunjuk sebuah pesawat jet yang parkir di apron.

Saya baru sadar,  ibu-ibu ini punya persepsi bahwa jika pesawat masih menggunakan baling-baling alias  bermesin jenis propheler,  maka pesawat itu adalah pesawat tua. Mungkin mereka punya persepsi  bahwa pesawat yang akan mereka naiki sama dengan  pesawat tua  jenis Fokker 70 yang masih menggunakan baling-baling.

Beberapa petugas apron berusaha menjelaskan kepada ibu-ibu itu bahwa menaiki pesawat baling-baling ini adalah aman, akan tetapi beberapa orang ibu bersikeras tidak bersedia naik ke pesawat.

Akhirnya, saya juga mencoba turut membujuk ibu-ibu ini untuk tetap bersedia naik ke pesawat, dengan cara menjelaskan bahwa pesawat yang kami naiki adalah pesawat baru yang aman sekalipun menggunakan baling-baling. “Tenang saja bu, ini adalah pesawat baru buatan Perancis pada tahun 2010, jadi sangat aman untuk diterbangkan”, kata saya. Untungnya saya punya beberapa referensi dan pernah membaca tentang jenis pesawat yang akan kami naiki tersebut. Seorang ibu dengan penuh selidik bertanya kepada saya :”Bapak dari angkatan udara  ya?’. 

Rupanya, lagi-lagi karena penampilan saya yang menggunakan sepatu ala militer dan berambut cepak, menyebabkan orang lain salah persepsi tentang profesi saya. Akan tetapi untuk menyenangkan orang lain, dan agar ibu-ibu ini berani naik ke pesawat, maka dengan tegas saya menjawab : “Ya, betul”. Rupanya melihat penampilan saya, dan mendengar jawaban saya yang tegas, si ibu seperti memberi komando kepada ibu-ibu yang lain mengatakan :”Oke, saya percaya bapak, kita naik”, katanya. Dan jadilah ibu-ibu tersebut baik ke pesawat, selamat sampai ke Yogyakarta. Semua jadi happy ending hanya karena saya dikira dari angkatan udara.

Dari dua kisah di atas, ternyata betul kata pak Mario Teguh, bahwa penampilan fisik sangat berpengaruh terhadap persepsi orang lain  tentang kita. Maka dari sekarang, perbaiki penampilan Anda, bukan untuk menipu, akan tetapi untuk memperbaiki persepsi orang lain tentang kita.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Continue Reading
Advertisement

Trending