Connect with us

Kolom

Kai Hintalu Naik Haji

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Saya berangkat haji untuk pertama kalinya pada tahun 2006. Saat itu saya ditunjuk sebagai TPHD (Tim Pembimbing Haji Daerah) Kalimantan Tengah. TPHD terdiri dari orang-orang yang diberi tugas (lebih tepatnya mungkin diberi anugrah) untuk mendampingi jamaah haji dari suatu daerah. Istilah “mendampingi” itu bisa diterjemahkan secara sendiri-sendiri oleh yang bersangkutan, karena anggota TPHD ternyata tidak tercatat sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan haji secara nasional.

Jadi, jika bisa membantu apapun yang bisa dibantu, ya syukurlah. Atau mau sedikit cuek bebek dan asyik menjalankan ibadah sendiri, juga tidak ada yang melarang. Enaknya, TPHD dibiayai oleh pemerintah daerah alias berangkat haji gratis. Itulah sebabnya saya lebih memilih berfungsi sebagai pembantu ketua kloter, karena rasanya tidak enak jika tidak melakukan apa-apa padahal sudah diberangkatkan pemerintah daerah secara gratis.

Waktu itu saya ditunjuk mendampingi rombongan jamaah haji dari Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Barito Timur, jumlahnya ada sekitar 80 an orang. Kelompok jamaah ini, seperti juga jamaah yang lain, memiliki heterogenitas yang tinggi, karena berasal dari berbagai suku, latar belakang pendidikan, status sosial, jenis pekerjaan, bahkan usia.

Salah satu anggota rombongan saya adalah Kai Hintalu (Kai = Kakek, Hintalu = Telur, dalam bahasa Banjar). Teman-teman memanggil beliau Kai Hintalu karena di kampung asalnya beliau berjualan hintalu (telur). Karena pandai berhemat dan menabung, Kai Hintalu bisa mendaftar ONH dari hasil berjualan telur. Usianya sudah 72 tahun, terlihat ringkih dan kurus, dan yang ini yang akan selalu membuat repot petugas kloter termasuk pendamping seperti saya, yakni beliau sudah sering lupa.

Menurut beliau,  dia harusnya berangkat bersama istrinya pada tahun 2006 itu, karena nomor porsinya juga sudah berurutan dengan istrinya. Hanya ketika panggilan pelunasan ONH atau panggilan keberangkatan haji, nama dan nomor porsi Kai Hintalu merupakan cutting point, sehingga akibatnya Kai Hintalu masuk daftar yang berangkat tahun 2006, sementara istrinya masuk daftar jamaah yang akan diberangkatkan tahun 2007. Tapi karena merasa sudah cukup uzur, Kai Hintalu memutuskan untuk berangkat pada tahun 2006, dan sang istri tercinta, yang usianya jauh lebih muda karena merupakan istri ketiga beliau, didaftarkan dalam rombongan jamaah “haji turis” atau haji non ONH alias illegal.

Akibatnya, Kai Hintalu berangkat bersama rombongan jamaah haji resmi, sedangkan sang istri juga berangkat dan sampai ke Mekkah beberapa hari setelah itu, tetapi tempat tinggalnya terpisah dari jamaah resmi. Kabarnya, sang istri ketika dijenguk oleh Kai Hintalu saat di Mekkah, ternyata diinapkan di rumah-rumah penduduk, dengan fasilitas akomodasi seadanya, tempat tidur di tumpuk-tumpuk, dan tentu saja tidak khusuk beribadah karena harus sembunyi-sembunyi dari kejaran petugas keamanan dan imigrasi Arab Saudi. Ini merupakan bukti bahwa sistem pengawasan penyelenggaraan haji masih perlu ditata untuk mengurangi praktek mafia perhajian yang dapat merugikan masyarakat.

Kembali ke Kai Hintalu. Karena beliau terpisah dari istri tercinta, tentu saja  sang kai selalu berusaha mendatangi pondokan sang istri, yang tempatnya nun jauh di atas gunung sana dan tersembunyi. Saya selalu mengingatkan beliau agar mengurangi aktivitas ”panjat gunung” tersebut demi kesehatan dan keamanan beliau, akan tetapi Kai Hintalu dengan mantap menjawab :”Cu, aku ini masih sehat, masih segar, masih mampu mendaki gunung itu. Nanti sebelum magrib kai pasti kembali” katanya sambil menunjuk arah lokasi pondokan istrinya.

Saya bertanya. “Kai, apakah masih ingat arah jalannya? Dan juga arah jalan pulang?”. Dengan mantap  kai menjawab “Yakin aja aku masih ingat”. Dan seperti hari-hari sebelumnya, pada saat menjelang magrib, kami petugas akan disibukkan oleh laporan jamaah kelompok Kai Hintalu, bahwa Kai Hintalu belum pulang. Dan seperti biasa pula, pada larut malamnya akan ada petugas dari sektor atau Daker (Daerah Kerja) yang mengantarkan beliau ke  pondokan kami. Artinya, kai tersesat, seperti biasanya. Kai… kai…

Saat puncak pelaksanaan ibadah haji, kondisi Kai Hintalu juga tidak terlalu baik sehingga harus menjalani safari wukuf. Wukuf adalah bagian dari prosesi haji yang wajib dilaksanakan, sehingga bagi orang-orang yang sakit atau kesehatannya tidak memungkinkan, pemerintah Arab Saudi menyediakan ambulan sebagai angkutan, dan jamaah yang mengikuti safari wukuf hanya berada di dalam ambulan tersebut sampai prosesi wukuf selesai.

Dari kenyataan ini, harus difahami bahwa ibadah haji sebagian besar merupakan ibadah yang memerlukan kondisi fisik dan kesehatan yang prima, kondisi yang harus menjadi perhatian bagi jamaah haji berusia lanjut seperti Kai Hintalu.

Kondisi Kondisi terburuk adalah pada saat setelah melaksanakan ibadah haji dan persiapan pulang ke tanah air melalui Jeddah, kondisi kesehatan Kai Hintalu benar-benar sudah payah. Tentu saja tanpa didampingi sang istri, yang tidak ada kabar beritanya dipindahkan entah ke mana oleh penyelenggara “haji turis” tersebut, sehingga kai hanya dirawat oleh petugas dan jamaah lainnya. Bahkan ketika sampai di hotel transit di Jeddah, Kai Hintalu sudah seperti orang latah yang berperilaku seperti anak kecil, sehingga kami semua bergotong royong dan bergantian merawat beliau. Kalau soal menyuruh minum obat, Kai Hintalu memang paling patuh dengan saya, karena beliau mengira saya adalah dokter di kloter itu.

Sampai turun di debarkasi Banjarmasin, kondisi Kai Hintalu sudah sangat lemah sehingga saya meminta untuk disiapkan ambulan untuk membawa beliau ke rumah sakit. Sampai di Banjarmasin itu, saya tidak sempat memantau keadaan beliau karena mengurus jamaah yang lain, hingga pada tahun 2007 saya mendengar kabar dari teman-teman jamaah dari kampung beliau, bahwa beliau telah berpulang kerahmatullah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Poin penting yang ingin saya sampaikan dari cerita ini. Pertama, kalau Anda akan berangkat haji, jangan terpisah dengan pasangan Anda, atau minimal ada orang dekat atau kerabat yang berangkat bersama Anda. Karena saat berada di tanah suci, ada kecenderungan orang akan mengurus diri dan keluarganya masing-masing. Jangan berharap pada petugas haji, karena jumlahnya juga kurang memadai untuk bisa melayani seluruh jamaah secara penuh dan menyeluruh. Dan yang kedua, ini yang penting, jangan berangkat haji menunggu usia tua, karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Dan yang pasti, kondisi ketuaan Anda akan merepotkan orang lain, he.. he ….

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Continue Reading
Advertisement

Trending