Connect with us

Kolom

Kebahagiaan Separuh Nilai

Akan tetapi mereka akan lebih bahagia jika pemberian itu disertai perhatian, dan kerelaan kita untuk meluangkan waktu bersama orangtua.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Ada sebuah cerita yang pernah saya dengar dari Cu Cu, seorang pemandu wisata di Tiongkok yang cukup fasih berbahasa Indonesia. Menurut Cu Cu, dia pernah membawa rombongan wisatawan dari Indonesia yang umumnya berusia lanjut. Maklum saja, karena sudah berusia lanjut, mereka harus selalu diingatkan,  terutama tentang barang-barang yang mereka bawa. Pada suatu saat, Cu Cu lupa mengingatkan anggota rombongan, apakah barang bawaan mereka ada yang tertinggal. Biasanya Cu Cu mengingatkannya tepat saat bus yang mengangkut rombongan, akan berangkat dari hotel tempat menginap menuju ke kota lainnya.  Pada saat akan makan siang di tempat perhentian antar kota, ada seorang ibu tua anggota rombongannya yang melaporkan bahwa ada barang berharga miliknya yang ternyata tertinggal di hotel, yakni gigi palsu miliknya.

Kita bisa bayangkan, bagaimana kesulitan yang akan dialami oleh ibu tersebut pada saat makan tanpa gigi palsunya itu. Cu Cu kemudian berusaha menghubungi hotel tempat menginap di mana gigi palsu si ibu tadi tertinggal, dan ternyata gigi palsu tersebut  masih ada di dalam kamar. Untung para pelayan hotel masih berbaik hati dan jujur, sehingga gigi palsu tersebut ditemukan. Masalahnya adalah, karena perjalanan sudah terlalu jauh meninggalkan hotel, maka tidak mungkin rombongan kembali hanya untuk mengambil gigi palsu tersebut.

Syukurlah pihak hotel berbaik hati untuk mengirimkan gigi palsu itu ke tanah air. Tapi justeru bantuan itulah yang menjadi sumber masalah.  Pertama, si nenek akan mengalami kesulitan  mengunyah makanan selama menghabiskan lawatannya di Tiongkok. Dan yang kedua, ternyata gigi palsu itu datang lebih cepat ke tanah air dibandingkan dengan si nenek, sehingga menyebabkan keluarganya di Indonesia salah sangka. Tentu saja, karena yang datang hanya gigi palsunya saja, maka pihak keluarga menyangka bahwa si nenek sudah pergi ke alam baka. Parahnya lagi, rombongan itu terdiri dari orang-orang tua yang belum pandai menggunakan HP.

Selang beberapa hari setelah itu, pihak keluarga menghubungi travel agent penyelenggara tour dan meminta pertanggung jawaban mereka, karena dianggap tidak memberi kabar kematian si nenek kepada pihak keluarga di tanah airi. Tentu saja pihak travel agent terkejut, dan setelah diusut, ternyata itu hanyalah kesalahan si gigi palsu yang datang lebih cepat dari yang punya.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa, jangan biarkan orangtua Anda berangkat ke tempat wisata, apalagi ke luar negeri yang jauh. Kisah yang mirip pernah saya ungkapkan dalam tulisan bertitel Kai Hintalu Naik Haji, cerita tentang bagaimana banyaknya kesulitan yang dialami orang yang sudah tua jika dibiarkan bepergian sendiri ke luar negeri.

Janganlah memberikan kebahagiaan separuh nilai kepada orangtua. Tentu orangtua akan bahagia jika  anaknya memberikan fasilitas dan kesempatan untuk melancong ke mana-mana. Akan tetapi mereka akan lebih bahagia jika pemberian itu disertai perhatian, dan kerelaan kita untuk meluangkan waktu bersama orangtua. Itulah kebahagiaan dengan nilai penuh, yang membuat orangtua, terutama ibu,  rela memberikan telapak kakinya untuk dihuni sebagai syurga bagi anak-anaknya.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Continue Reading
Advertisement

Trending