Connect with us

Kolom

La Rancon de la Gloire

Jika anda meninggalkan ilmu yang bermanfaat, maka sebenarnya anda belum mati, karena ilmu itu dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kesejahtraan masyarakat.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Ketika saya dalam perjalanan dari Kairo ke Bangkok pada beberapa waktu lalu (2015) menggunakan maskapai Egypt Air, iseng-iseng saya membuka tontonan film yang tersedia di kursi kabin. Salah satu film yang menarik bagi saya, berjudul La Rancon de la Gloire besutan penulis sekaligus sutradara terkenal Prancis,   Xavier Beauvois. Film bergenre drama-komedi ini ternyata sempat menjadi menarik banyak perhatian dalam ajang Venice International Film Festival.

Saya sebut menarik, karena sangat relevan dengan konsep yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ketika seseorang Muslim meninggal dunia, maka putuslah seluruh amalnya kecuali 3 perkara, yakni ilmu yang bermanfaat, anak yang saleh dan mendoakan orangtuanya, dan ilmu yang bermanfaat. Pesan penting universal dari hadits ini sebenarnya adalah bahwa kematian bukanlah batas bagi kita untuk memberikan kontribusi pada masyarakat.

Jika anda meninggalkan ilmu yang bermanfaat, maka sebenarnya anda belum mati, karena ilmu itu dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kesejahtraan masyarakat. Jika anda meninggalkan seorang anak yang shaleh, maka anak anda yang shaleh juga akan berguna bagi masyarakat, atau minimal tidak menjadi beban sosial dalam komunitasnya. Dan jika anda meninggalkan amal jariah, dalam bentuk bangunan sekolah misalnya, maka sudah barang tentu bangunan itu akan sangat bermanfaat untuk memajukan pendidikan masyarakat. Dengan demikian, ukuran keberhasilan hidup kita, bahkan jika dapat disebut sebagai ukuran “keberhasilan” dari kematian kita, adalah seberapa banyak kontribusi kita bagi masyarakat. Bukankah Rasulallah Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi komunitasnya. Orang orang yang baik bahkan akan tetap bermanfaat sampai ia telah wafat.


Jika anda pernah menyaksikan film yang berjudul La Rancon de la Gloire, yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai price of fame, maka manfaat tentang orang yang telah mati itu dapat tergambar  cukup baik. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata tersebut, digambarkan tentang 2 orang teman lama yang bertempat tinggal di Swiss, Eddy dan Osman yang baru bertemu kembali setelah Eddy dipenjara karena kasus perampokan. Eddy yang merupakan imigran asal Belgia, dan Osman yang merupakan imigran Aljajair. Eddy berupaya menolong keluarga Osman, termasuk anak Osman, Samira, dari belitan kesulitan ekonomi, terutama karena istri Osman harus masuk rumah sakit. Eddy kemudian mengusulkan sebuah ide kepada Osman ketika mendengar meninggalnya Charlie Chaplin, yakni dengan cara mencuri mayat Chaplin kemudian meminta tebusan kepada keluarganya. Kelucuan demi kelucuan muncul ketika kedua sahabat tersebut berusaha meminta tebusan kepada keluarga Chaplin sambil berusaha menghindari kejaran pihak keamanan.

Dari film itu, kita akan menemukan sekaligus memahami bahwa ironi dalam hidup itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Ketika seorang Chaplin yang terkenal meninggal dan dikuburkan, ternyata kematian sang bintang masih bisa dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan orang lain.

Bisakah kita berguna bagi orang lain, bahkan setelah kita mati sekalipun?

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending