Connect with us

Kolom

Lupa Menghargai

Lupa itu adalah anugrah Tuhan kepada kita, tetapi lupa menghargai, lupa mensyukuri karunia Tuhan, bisa membawa mudharat bagi kehidupan kita.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Saya sudah katakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa lupa itu anugrah, lupa itu manusiawi, sekaligus lupa itu harus disyukuri sebagai sebuah karunia Tuhan. Karena lupa itulah, maka kita bisa melupakan kepahitan dan problema hidup. Akan tetapi,  karena lupa itu pula, kita menjadi lupa menghargai.

Kita sering lupa menghargai (baca mensyukuri), bahwa Tuhan telah memberikan sifat lupa pada kita. Karena lupa itu sudah menjadi bagian dari keseharian kita, maka kita menjadi lupa mensyukurinya. Memang segala sesuatu yang kita bisa nikmati setiap hari, cenderung akan membuat kita lupa, bahwa hal itu ada dalam hidup kita, bahwa hal itu adalah bagian dari apa yang kita bisa nikmati selama ini. Mungkin karena seringnya menikmati anugrah tersebut, maka kita lupa bahwa kita diberikan karunia oleh Tuhan.

Kita juga sering lupa, bahwa orang lain di sekitar kita, telah merelakan waktu, tenaga, fikiran, atau bahkan hidupnya untuk kita. Langsung ataupun tidak langsung, banyak orang di sekitar kita yang merelakan dan mengabdikan hak-haknya kepada kita. Ada orang yang merelakan hidupnya untuk menjadi pasangan hidup kita, ada yang merelakan waktu, tenaga dan fikirannya untuk menjadi anak buah atau bawahan kita, ada orang lain yang bahkan merelakan haknya untuk sama-sama mendapatkan luasan jalan yang sama dengan kita, dan mereka terpaksa meminggirkan kendaraannya karena mobil kita mau lewat dengan klakson yang nyaring. Tentu ada ribuan contoh bisa kita cantumkan di sini, yang membuktikan betapa orang lain telah berkorban untuk kita, sementara kita lupa untuk menghargainya.

Ketika saya bertanya kepada teman saya yang pakar psikologi, kenapa kita bisa lupa ? jawabannya katanya mudah, yakni karena kita tidak kepepet, he he. Tentu saja jawaban itu saya harus iyakan. Tapi jika direnungkan, jawaban teman saya tadi ada betulnya. Kita sering lupa kepada petani yang menanam dan menghasilkan padi agar kita bisa makan dengan lahap dan nikmat, dan pada saat kita tidak lagi menemukan beras, maka baru kita ingat betapa pentingnya profesi petani. Kita melupakan jasa petani ketika kita tidak kepepet.

Kita juga sering lupa tentang karunia Tuhan melalui  tumbuhan, yang  menyediakan oksigen untuk kita bernafas. Dan kita baru sadar tentang pentingnya udara segar, ketika kita kepepet, terutama pada saat adanya kabut asap yang menjadi langganan tahunan setiap musim kemarau. Dalam kondisi demikian, kita juga bahkan lupa bahwa Tuhan telah memberikan udara segar selama 10 bulan yang lalu, dan hanya 2 bulan Tuhan memberikan udara penuh kabut asap kepada kita. Meskipun demikian, kita juga lupa menghargai bahwa, sekalipun setiap tahun selama 2 bulan kita sesak bernafas karena kabut asap, tokh akhirnya kita masih hidup.

Untuk itu, kita harus belajar mensyukuri  berbagai karunia Tuhan kepada kita, belajar menghargai apa yang telah direlakan orang lain kepada kita, dan menghindar dari sifat lupa menghargai. Lupa itu adalah anugrah Tuhan kepada kita, tetapi lupa menghargai, lupa mensyukuri karunia Tuhan, bisa membawa mudharat bagi kehidupan kita. Lupa menghargai akan membawa kita menjadi orang yang sombong sehingga menyakiti orang lain. Semoga kita terhindar dari sifat lupa menghargai.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending