Connect with us

Kolom

Mengasah Rasa, Menguji Syukur

SLB Palangka Raya adalah salah satu sekolah luar biasa di kota Palangka Raya, yang menurut saya, memang sangat luar biasa.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Kadang rasa dapat kita asah melalui suatu peristiwa atau pengalaman tertentu. Dengan melihat, dan mengalami kejadian tertentu, kita bahkan dapat menguji rasa syukur kita kepada Tuhan. Contohnya adalah pada saat kita mengunjungi teman yang terbaring sakit, kerabat yang mengalami musibah, atau pada saat kita berkunjung ke suatu tempat.

Saya mengalaminya saat angjangsana ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Palangka Raya. Setiap pertengahan Agustus, tepatnya saat menjelang ulang tahun kemerdekaan RI, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dimotori oleh Dinas Sosial, secara rutin menjadwalkan anjangsana ke tempat-tempat tertentu : panti asuhan, panti jompo, panti rehabilitasi, dan semacamnya. Dan untuk tahun 2014 ini, saya bersama dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah dan sejumlah petinggi lainnya, dijadwalkan berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Palangka Raya.

SLB Palangka Raya adalah salah satu sekolah luar biasa di kota Palangka Raya, yang menurut saya, memang sangat luar biasa. Bukan hanya karena anak-anak yang sekolah di sana adalah anak-anak berkebutuhan khusus, akan tetapi juga karena dibalik itu, banyak hal luar biasa yang ada di balik SLB ini.

Keluarbiasaan pertama, adalah semangat dan kesabaran guru-gurunya dalam mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Saya dapat membayangkan betapa sulitnya mengajar dan mendidik anak-anak yang memiliki hambatan berbagai segi : ada yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, anak-anak autis, anak-anak yang secara mental mengalami keterbelakangan. Kita bisa membayangkan, mengajar dan mendidik anak-anak yang tidak mengalami hambatan saja sudah cukup sulit, apalagi mengajar dan mendidik anak-anak di SLB. Jadi memang dibutuhkan guru-guru dengan semangat sekaligus kesabaran yang sangat tinggi.

Keluarbiasaan kedua, adalah tingginya semangat anak-anak yang mengalami hambatan itu untuk belajar, tentu dengan berbagai keterbatasan masing-masing. Tampak dari perilaku mereka di dalam kelas dan di luar kelas, mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap segala sesuatu.  Jika semangat itu dibandingkan dengan kita yang memiliki anak-anak tanpa hambatan, maka akan membuat iri hati kita sebagai orangtua.

Dari kunjungan seperti ini, saya paling tidak dapat memetik 2 hal, yakni kita dapat mengasah rasa sekaligus menguji rasa syukur. Saya sebut dapat mengasah rasa, karena ternyata di dunia ini masih banyak orang-orang yang kurang beruntung, yang belum diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mendengar, bisa melihat, bisa berfikir dengan baik. Juga belum diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berlari karena tidak memiliki kaki sempurna untuk bertumpu, tidak ada tangan untuk meraih dan memeluk. Dan, ketidaksempurnaan mereka itulah yang membedakannya dengan kita yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki kesempurnaan. Kita disebut lebih “sempurna” karena ada yang “kurang sempurna”. Seolah-olah dengan memperlihatkan kekurang sempurnaan itu, Tuhan sedang menguji rasa syukur kita, yang lebih beruntung karena diberikan Tuhan kesempurnaan yang lebih.

Makanya, berkunjung ke tempat-tempat seperti itu, mestinya dapat mengasah rasa sekaligus meningkatkan rasa syukur kita.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Continue Reading
Advertisement

Trending