Connect with us

Kolom

Menghargai Lupa

Meskipun lupa, atau kealpaan kita, sering mendatangkan masalah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, akan tetapi kita juga harus bersyukur bahwa kita bisa lupa.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Lupa itu manusiawi. Lupa itu kodrat yang diberikan Tuhan kepada kita, walau kadang menimbulkan efek yang buruk bagi kita.

Dalam sistem memory manusia, lupa bisa terjadi karena bertumpuknya informasi sehingga informasi lama sulit kita gali kembali pada saat diperlukan. Ada semacam interferensi atau tumpang tindihnya  informasi antara yang baru kita terima dengan informasi yang telah lama kita simpan di sistem memory. Memperbanyak informasi sejenis dalam suatu waktu tertentu sebagai penguatan informasi, dipercaya bisa mengurangi lupa. Akan tetapi jika informasinya lebih heterogen, maka justeru akan meningkatkan kemungkinan lupa. Dalam konteks ini, dipercaya bahwa ingatan kita terhadap informasi  baru akan lebih baik jika  informasi  yang kita miliki lebih sedikit. Perhatikan bahwa anak kecil lebih mudah mengingat peristiwa masa lalunya ketimbang orang dewasa.

Jenis lupa yang lain adalah kealpaan. Ini banyak dipengaruhi oleh faktor usia. Semakin tua umur seseorang, maka semakin lemah jaringan saraf yang menghubungkan antar bagian otak. Penuaan bisa menyebabkan bertambahnya jumlah sel saraf otak yang mati. Itu sebabnya, orangtua cenderung lupa  (alpa) tentang sesuatu yang baru saja dilakukan. Walaupun demikian, tenatu saja lupa dan alpa bukan hanya milik orang yang sudah tua.

Dulu saat saya kuliah jenjang S1, saya  dan teman-teman kuliah masih sering diberi  kuliah oleh seorang professor, yang mungkin karena sudah berumur, sering lupa melepas helm yang ada di kepala beliau, sehingga helm itu masih dipakai pada saat memberi kuliah di dalam kelas. Kadang juga si professor menggunakan sepatu di kaki sebelah kiri, dan sandal di kaki sebelah kanan.

Sebagai contoh lain, saya dengan teman pernah mengalami kejadian lucu. Saat itu, kita ada silaturahim di Banjarmasin dengan beberapa tokoh di provinsi itu. Tentu saja sebagian tokoh adalah orang-orang tua. Karena pertemuannya dilaksanakan di rumah makan dengan cara lesehan sambil makan siang, maka sepatu dan alas kaki lainnya harus dilepas. Lucunya, saat pertemuan selesai, ada teman yang kehilangan sebelah sepatunya. Usut punya usut, ternyata salah seorang tokoh yang kita undang, yang pulang lebih dulu karena masih ada pertemuan lain, secara tidak sengaja, karena kealpaan, memasang sepatunya berbeda antara kaki kiri dan kaki kanan. Sepatu sebelahnya punya sang tokoh, sementara kaki lainnya mengenakan sepatu teman saya. Tapi masalah bisa diselesaikan, dengan cara mendatangi ke kediaman beliau untuk menukarkan sepatu yang sebelahnya tadi.

Meskipun lupa, atau kealpaan kita, sering mendatangkan masalah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, akan tetapi kita juga harus bersyukur bahwa kita bisa lupa.  Tuhan sudah memberikan manusia berbagai jenis pengalaman hidup, dari yang manis sampai yang pahit. Itulah gunanya lupa, yakni untuk melupakan pengalaman pahit dan kejadian buruk yang kita alami. Anda bisa bayangkan jika semua pengalaman buruk dan pahit yang pernah Anda alami, selalu terbayang di benak Anda dan tidak bisa dilupakan. Jika tidak ada lupa, maka mungkin hidup kita akan terus dirundung kesedihan. Jadi, bersyukurlah bahwa kita bisa lupa. Mari kita menghargai lupa…… Bukan lupa menghargai……

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Continue Reading
Advertisement

Trending