Connect with us

Kolom

Mulai Dari Kebaikkan Kecil

Dengan demikian, keterbatasan yang kita miliki hendaknya jangan menghalangi kita untuk berbuat baik, karena ladang untuk beramal terbuka sangat lebar.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Pernahkah kita berfikir bahwa setiap perbuatan baik kita, apapun bentuknya, dan seberapapun besarnya, selalu memiliki nilai ibadah jika kita lakukan secara ikhlas ? Pernahkah kita berfikir bahwa, setiap pekerjaan yang kita lakukan juga bernilai ibadah ? Bukankah  Allah tidak membeda-bedakan perbuatan kita berdasarkan besar kecilnya perbuatan yang kita lakukan, akan tetapi Allah menilai perbuatan kita berdasarkan keikhlasan dan nilai efek dari perbuatan itu. Perbuatan remeh yang selama ini luput dari perhatian kita, tetapi memiliki efek sosial yang besar, bisa jadi merupakan ibadah yang nilainya tinggi di hadapan Allah, yang suatu saat akan diganjar Allah dalam banyak bentuk.

Ketika saya masih remaja, saya termasuk orang yang paling suka membersihkan dan menata masjid, tempat di mana saya sering ikut shalat berjamaah. Entah kenapa,  secara spontan saya berusaha menyapu, lalu kemudian menata dan membentangkan kain sajadah putih panjang untuk shalat, tepat beberapa saat sebelum shalat Magrib dimulai.  Sekalipun tidak rutin saya lakukan, akan tetapi spontanitas itu selalu muncul begitu saja, ketika saya melihat bahwa masjid tempat kami shalat belum siap. Begitu pula kebiasaan mematikan listrik dan kipas angin di masjid, dan hal itu menjadi kebiasaan sampai sekarang.

Mungkin saat itu, banyak yang menganggap perbuatan itu merupakan perbuatan remeh, karena tokh jika tidak dibersihkan atau ditata, tidak ada orang yang merasa terganggu shalatnya. Anehnya, saya sering sekali ditraktir makan bakso atau ke warung teh dekat masjid kami oleh seorang jamaah, ketika selesai shalat Magrib, tepat ketika sebelum magrib saya membersihkan atau membentangkan sajadah panjang. Apakah ini suatu kebetulan, ataukah karena memang beliau sering memperhatikan perbuatan saya, wallahu’alam. Pada masa kini, saya melihat ada staf saya yang rajin mengurus masjid yang terletak di lingkungan kantor, yang mungkin karena keikhlasannya, ia mendapat rezeki diberangkatkan umroh atau biaya kantor. Tanpa bermaksud untuk takabur atau menyombongkan diri, bisa jadi perbuatan perbuatan kecil yang selama ini kita anggap remeh, akan dinilai Allah dengan ganjaran yang besar dalam berbagai bentuk, asalkan kita lakukan secara ikhlas, tanpa motivasi untuk meminta ganjaran berlipat ganda.

Keikhlasan seharusnya merupakan dasar bagi semua tindakan kita. Dalam sebuah dari Bukhari dan Muslim, pernah diceritakan bahwa ketika turun ayat sedekah, orang orang Islam berlomba-lomba mengangkut barang-barang di atas punggung mereka untuk mendapatkan upah dari jasa mengangkut itu, kemudian hasilnya disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak, orang-orang mencela, ‘Ah, ia hanya pamer saja’. Kemudian datang lagi orang lain lalu bersedekah dengan satu sha (sekitar 2,7 kg) kurma, orang-orang mencela, ‘Sebenarnya Allah tidak memerlukan makanan satu sha ini’. Berdasarkan kejadian itu, maka turunlah ayat dalam surah At-Taubah 79 :  “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan suka rela dan (mencela) orang orang yang memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang orang (munafik) itu menghina mereka, Allah akan membalas penghinaan mereka, dan untuk mereka azab yang pedih. Melalui ayat ini, Allah mencela anggapan orang orang munafik bahwa sedekah yang sedikit tidak ada artinya. Bagi Allah, kebaikan itu tidak dinilai dari segi kualitas, tetapi kuantitas.

Dalam sebuah riwayat pernah juga dikisahkan tentang seorang  seorang pelacur yang diampuni dosa-dosanya oleh Allah, hanya karena ia memberikan air minum dengan menggunakan sepatunya, untuk seekor anjing yang kehausan dan berputar-putar di sekitar sumur. Ini berarti bahwa, dosa dosa besar bahkan dapat terhapus hanya oleh suatu perbuatan kecil dan remeh tetapi memiliki efek yang sangat besar. Ini juga berarti bahwa perbuatan remeh sesederhana apapun, akan tetap memiliki nilai yang tinggi di hadapan Allah, selama perbuatan itu kita lakukan dengan ikhlas.

Dengan demikian, keterbatasan yang kita miliki hendaknya jangan menghalangi kita untuk berbuat baik, karena ladang untuk beramal terbuka sangat lebar. Allah maha adil, dan telah menyiapkan lading untuk berbuat baik bagi semua golongan. Jika yang kaya diwajibkan Allah untuk berbuat baik melalui zakat, infaq dan sedekah harta, atau berangkat haji dan umroh karena memiliki kemampuan ekonomi, maka yang memiliki keterbatasan ekonomi diberikan Allah kesempatan untuk berbuat baik dengan cara lain tetapi memiliki nilai ibadah yang sama atau bahkan lebih besar. Rasulullah  sendiri pernah didatangi oleh orang orang fakir Muhajirin, yang mengadu karena tidak memiliki kelebihan harta sehingga tidak mendapat kesempatan untuk bersedekah. Rasulullah kemudian menjawab :  “Bukankah Allah SWT telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat kamu gunakan untuk bersedekah. Sungguh dalam setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, memerintahkan kebaikan itu sedekah, mencegah kemungkaran itu sedekah.”

Subhanallah, mari kita mulai niatkan secara ikhlas semua perbuatan kita sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah, di manapun dan kapanpun, sehingga semua perbuatan kita akan bernilai ibadah, sekalipun hanya sebuah kebaikan kecil. Insya Allah kebaikan kecil itu akan terus membesar seperti bola salju menjadi kebaikan kebaikan besar yang bermanfaat untuk semua. Amin.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending