Connect with us

Kolom

Orang Biasa yang Luar Biasa

Menurut saya, klasifikasi “orang biasa” dan “orang luar biasa” tentu tidak dapat kita ukur dari tinggi rendahnya tingkat pendidikan, dari sekolah mana dia berasal

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Pada saat saya berkunjung ke Thailand Selatan di bulan Maret 2015, tepatnya di provinsi Pattani dan Yala serta Narathiwat, ada seorang kyai pimpinan pondok pesantren di sana,  pada saat memberikan sambutan dalam sebuah acara formal, mengatakan bahwa beliau hanyalah orang biasa. “Saya hanyalah orang biasa, saya tidaklah pernah merasai tingkat pendidikan formal, selain hanya pondok pesantren” kata pak kyai  dalam bahasa Melayu yang tertatih tatih. Padahal, beliau merupakan salah satu tokoh yang disegani di kawasan Patani besar (dengan tulisan hanya satu huruf  t pada kata Patani). Patani besar merupakan  istilah untuk kawasan Thailand Selatan yang mencakup provinsi  Yala,  Narathiwat, Pattani sendiri, dan Sonkla, yang mayoritas didiami oleh etnis Melayu beragama Islam.

Kiprah dan pemikiran beliau bersama  beberapa orang lainnya, terbukti telah mulai membuka wawasan masyarakat di kawasan tersebut tentang pentingnya pendidikan. Beliau mencoba mendorong para pemuda Patani untuk menuntut ilmu di beberapa negara tetangga seperti Malayasia dan Indonesia, serta beberapa negara Islam di Timur Tengah. Saya katakan kepada pak kyai, bahwa beliau adalah salah seorang yang memiliki kiprah luarbiasa di kawasan Patani.

Anggapan bahwa mereka adalah orang orang biasa, juga pernah disampaikan oleh teman saya, yang merupakan seorang tokoh muda Patani, dan merupakan partner dari sang kyai  tadi dalam pemberdayaan pendidikan di kawasan Patani.  Pada suatu saat, saya pernah memuji pemikiran dan aktivitas yang dilakukann teman saya tadi, dan lagi lagi, teman saya tadi mengatakan bahwa “kami hanyalah orang orang biasa”. Saya tidak yakin apakah sikap merendah itu merupakan bagian dari budaya orang Patani, ataukah melambangkan ksederhanaan mereka. Yang jelas, ungkapan bahwa “saya hanyalah orang biasa” itu telah menggelitik hati saya, sehingga menimbulkan pertanyaan, siapakah sebenarnya orang orang biasa itu ? Dan sebaliknya, siapakah orang orang yang luar biasa itu ?

Menurut saya, klasifikasi “orang biasa” dan “orang luar biasa” tentu tidak dapat kita ukur dari tinggi rendahnya tingkat pendidikan, dari sekolah mana dia berasal, atau dari tingkat sosial ekonomi, akan tetapi kita ukur dari kiprah dan peranannya dalam komunitasnya. Pernahkah kita terfikir bahwa, orang orang yang bertugas sebagai cleaning service misalnya, yang selama ini sering kita anggap sebagai “orang orang biasa”, ternyata memiliki peran yang luarbiasa.

Tanpa peran mereka, kita tidak akan pernah nyaman menggunakan toilet di tempat kerja kita. Tanpa cleaning service juga, kita akan merasakan lingkungan yang penuh sampah. Atau staf administrasi alias tukang ketik surat surat di kantor kita. Bayangkan tanpa peran mereka, maka kita sebagai pimpinan harus meluangkan banyak waktu untuk mengetik sendiri surat surat. Sebagai mshasiswa, bayangkan pula bagaimana peran orangtua kita dalam membentuk karakter  dan membiayai kuliah kita. Jika logikanya di balik, maka kita juga memiliki peran dalam memberikan kebahagiaan dan kebanggaan bagi orangtua kita.

Kita bisa menarik ribuan atau bahkan jutaan contoh peran positif dalam masyarakat dan organisasi, yang melambangkan bahwa tanpa peran itu, maka ada peran yang hilang dalam masyarakat, ada kepincangan dalam sebuah sistem.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada “orang orang biasa”. Semua kita adalah orang orang luar biasa, dan selalu memiliki peluang untuk menjadi orang yang lebih luar biasa lagi. Ketika kita bisa berperan positif dalam mengembangkan organisasi, maka itu berarti kita telah menjadi orang yang luarbiasa. Maka, jadilah orang-orang biasa yang luarbiasa.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending