Connect with us

Kolom

Pantaskah Berharap Pahala?

Ambil contoh dalam tingkatan ini adalah sahabat Rasulullah Abdurrahman bin ‘Auf, yang merupakan salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk surga

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah lagu yang saya download dari Youtube, lagu yang dinyanyikan oleh Rafli, penyanyi asal Aceh yang sempat populer pasca tragedi tsunami. Dalam salah satu baitnya, Rafli berujar, “Bila sujudku padaMu karena takut neraka, bakar aku dengan apinya. Bila sujudku padaMu karena damba surga, tutup bagiku surga itu. Namun bila sujudku demi Kau semata,  jangan palingkan wajahMu, aku rindu menatap keindahanMu”.

Lagu di atas menggambarkan motivasi ibadah kita. Motivasi adalah faktor pendorong yang mendasari tindakan kita dalam mencapai tujuan. Demikian pula halnya dalam beribadah.

Pada kenyataannya, sebagian besar masyarakat kita masih menjadikan imbalan pahala sebagai faktor pendorong dalam beribadah. Sangat sering kita mendengar dalam banyak ceramah maupun tulisan-tulisan tentang agama Islam, bahwa jika mengerjakan ibadah X maka pahalanya sekian, atau jika mengjalankan ibadah Y, maka pahalanya sekian kali lipat, dan seterusnya. Semua pernyataan itu tentu ada dasar hukumnya. Banyak sekali hadits yang menyatakan tentang besarnya imbalan pahala yang kita dapatkan jika kita mengerjakan suatu ibadah. Pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah, apakah pencarian pahala itu yang menjadi tujuan dari ibadah kita ? Bukankah Allah SWT berfirman dalam surat Ad-Dzariyat 56 : “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”.

Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, ‘abdi atau ta’abud yang secara etimologi berarti tunduk, patuh, merendahkan diri, dan hina.  Menurut Yusuf Qardhawy dalam Al-‘Ibadah fie Al-Islam, kata ‘abdi atau ta’abud lebih dimaknai sebagai ketundukan dan kepatuhan serta merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Sedangkan Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Dzilal Al-Qur’an menyatakan bahwa  ibadah merupakan al-wadhifah al-ilahiyyah, tugas yang diembankan Allah kepada manusia sedemikian rupa sehingga ibadah harus dimaknai sebagai perwujudan fungsi penciptaan manusia. Dengan kata lain, dengan melakukan ibadah, maka manusia telah memfungsikan dirinya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Analoginya, sepeda motor diciptakan sebagai alat transportasi. Jika motivasi kita membeli sepeda motor hanya untuk dipajang di depan rumah, maka pembelian itu telah menyebabkan disfungsi dari tujuan penciptaan sepeda motor tersebut.

Sebagai unsur pendorong dalam ibadah, motivasi akan memberikan warna tersendiri dalam perilaku ibadah kita, karena setiap individu mungkin didorong oleh motivasi yang berbeda beda. Sebagian ahli agama membedakan motivasi ibadah ke dalam 5 tingkatan:

Pertama, tingkatan al-mukrohin. Motivasi ini semata-mata didasari pada rasa terpaksa, sebagai wujud dari kewajiban, yang mana ibadah dilaksanakan hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Itulah sebabnya motivasi ibadah jenis ini berada dalam tingkatan yang paling rendah. Meskipun demikian, tentu ibadah glongan ini sudah lebih baik daripada mereka yang tidak menunaikan ibadah.

Kedua, tingkatan al-ummal. Motivasi ini didasari pada keinginan untuk mendapatkan penghargaan, status sosial,  atau imbalan tertentu. Rasulullah menggambarkan kelompok ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa nanti di hari kiamat akan ada sekelompok orang yang datang menghadap Allah dengan banyak kebaikan, tetapi justeru dimasukkan Allah ke dalam neraka. Mereka adalah para   syahid yang gugur di medan perang tetapi motivasinya untuk memperoleh status pahlawan, para cendekiawan dan orang orang berilmu yang motivasinya dalam mengajarkan ilmunya agar disebut ulama, dan orang-orang kaya yang suka bersedekah tetapi motivasinya agar disebut dermawan.

Ketiga, adalah tingkatan at-tujjar. Motivasi ibadah kelompok ini didasari pada keinginan untuk memperoleh imbalan lebih besar. Artinya, ibadah yang dilakukannya didasari pada keinginan untuk memperoleh imbalan yang lebih besar dari Allah, seperti cara fikir orang berdagang. Jika ia bersedekah, maka ia selalu menghitung dan membayangkan bahwa Allah akan membalasnya dengan pahala berlipat ganda, atau mungkin memberikan rizki yang lebih banyak kepadanya. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang mencoba berdagang dan berhitung dengan Allah.

Keempat, tingkatan al-muthi’in. Motivasi ibadah kelompok ini semata-mata karena rasa tunduk kepada perintah Allah, bukan karena terpaksa untuk menggugurkan kewajiban, bukan pula dimotivasi untuk memperoleh status dan pujian dari orang lain, serta tidak karena mengharapkan imbalan pahala. Ibadah kelompok ini, dimotivasi oleh rasa pengabdian yang tulus sebagai hamba Allah. Kelompok ini dapat digambarkan sebagai kelompok yang menyatakan ikrar sebagaimana dimaksud surah Al-An’am ayat 162 dan sering kita ucapkan dalam doa iftitah ketika shalat, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam”.

Kelima, yang merupakan kelompok paling tinggi, adalah tingkatan al-mutaladzidzin. Ibadah pada kelompok ini, dimaknai sebagai sebuah kebutuhan sehingga ia merasa ketagihan. Ada kerinduan yang mendalam untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan, ada kegelisahan tiada tara jika ia tidak melakukan ibadah. Ibadah dilakukan karena ingin mendapatkan kenikmatan hakiki berinteraksi dengan Allah.  Ambil contoh dalam tingkatan ini adalah sahabat Rasulullah Abdurrahman bin ‘Auf, yang merupakan salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk surga, yang keranjingan tiada henti menginfaqkan hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Rasulullah, yang dijamin oleh Allah untuk masuk surga, terus melakukan shalat sampai akhir hayatnya, bahkan ketika kaki beliau bengkak sehingga sulit duduk untuk bertahiyat.

Dari beberapa tingkatan motivasi ibadah di atas, kita dapat menimbang, di manakah posisi kita masing-masing. Masihkah ibadah yang kita lakukan sehari-hari : shalat, puasa, bahkan bersedekah, didasari pada keinginan mendapatkan pahala dan imbalan dari Allah ? Tidak kah cukup nikmat yang selama ini Allah kucurkan kepada kita ? Allah telah memberi kita kehidupan, memberi kita nafas ratusan ribu kali sehari semalam, memberikan kita rizki. Allah berfirman dalam surah Ar-Rahman, “Nikmat manakah lagi yang engkau hendak dustakan”? Bagaimana cara kita membalas nikmat itu ? Lalu, pantaskah lagi kita mengharap pahala dari ibadah yang kita lakukan?

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending