Connect with us

Kolom

Takdir Sebagai Sistem

Memandang takdir sebagai suatu sistem, bukan sebagai hasil akhir, akan membawa kita pada usaha optimal untuk mencapai harapan dan keinginan-keinginan kita.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Saat saya masih menjadi siswa SMA, saya tidak pernah memiliki cita-cita untuk menjadi guru atau dosen. Waktu itu, saya lebih sering berangan-angan bekerja sebagai tenaga ahli matematika atau ahli fisika, bekerja di laboratorium dengan pakaian khusus, melakukan percobaan, dan menemukan sesuatu yang baru dalam bidang matematika dan fisika. Saya lebih terobsesi untuk melakukan berbagai eksperimen,  meramu rumus-rumus, mencampur berbagai bahan kimia, sebagaimana sering saya tonton di film-film fiksi ilmiah kala itu.

Itulah sebabnya saat pemilihan jurusan, saya lebih memilih masuk ke jurusan A1 (Fisika) ketimbang jurusan A2 (Biologi), A3 (IPS) atau A4 (Bahasa). Waktu itu, pilihan tersebut saya sadari betul arah implikasinya, dan pilihan itu bukan semata-mata karena saya sangat suka pelajaran Fisika dan Matematika.

Saat tamat SMA, saya ditawari untuk kuliah melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), semacam proses seleksi siswa berpotensi, dan karena kurangnya informasi, maka saya sengaja memilih jurusan Pendidikan Matematika. Saya mengira bahwa pada jurusan Pendidikan Matematika, kita dididik untuk menjadi ahli matematika. Kata “pendidikan” waktu itu saya maknai sebagai “proses mendidik seseorang”. Tentu saja saya cukup terkejut ketika saya diterima dan mengikuti kegiatan orientasi  mahasiswa baru, bahwa ternyata kata “pendidikan” itu bermakna bahwa jurusan Pendidikan Matematika itu adalah mendidik untuk menjadi calon guru matematika. Tapi apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur diterima di jurusan tersebut, maka dijalani saja walaupun tidak sesuai dengan angan-angan di waktu SMA.

Waktu itu saya sadari bahwa, barangkali memang saya sudah ditakdirkan untuk menjadi guru atau dosen, menjadi orang yang nantinya akan selalu berdiri di depan kelas dan menjadi pusat perhatian siswa di kelas. Padahal saat SMA, saya adalah orang yang paling malas sekaligus gugup jika harus berdiri dan berbicara di depan banyak orang.

Meskipun demikian, dalam perjalanan hidup selanjutnya, proses pencarian identitas diri dan potensi saya, tidak seratus persen saya pasrahkan pada takdir. Dalam masa-masa penyelesaian kuliah di Pendidikan Matematika itu, saya banyak merubah pandangan saya tentang takdir. Misalnya tentang stigma oleh keluarga saya, bahwa saya tidak mungkin bisa menyelesaikan kuliah karena saya berasal dari keluarga pedagang, yang memiliki tradisi dagang turun temurun, sehingga seolah-olah saya juga dilahirkan untuk menjadi pedagang.

Dalam perkembangan itu, saya lebih sepakat pada pandangan bahwa takdir itu adalah sebuah sistem, bukan suatu hasil akhir. Tuhan menciptakan takdir sebagai sebuah hukum, bukan cetakan pola yang melekat pada diri kita. Disebut sistem, karena takdir bekerja mengikuti hukum dan proses tertentu. Misalnya Tuhan sudah menciptakan sistem takdir, bahwa jika seseorang bisa berhemat dan suka menabung, maka suatu saat ia akan kaya. Hemat pangkal kaya, kata pepatah. Sistem seperti itu adalah takdir, artinya orang yang hemat dan suka menabung itu ditakdirkan akan kaya.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad pernah melarang seorang sahabat untuk melewati suatu daerah yang sedang dilanda wabah penyakit, takut sahabat itu tertular penyakit. Dalam sistem tersebut, seseorang ditakdirkan akan tertular penyakit jika ia berinteraksi dengan orang lain yang terkenan wabah. Sebaliknya, orang ditakdirkan tidak akan tertular wabah tersebut jika ia menghindari interaksi atau berada di wilayah yang kena wabah tersebut.

Pengalaman lainnya juga menarik untuk saya ungkapkan. Sebagai mahasiswa penerima Tunjangan Ikatan Dinas (TID) pada jurusan Pendidikan Matematika, saya terikat dengan ketentuan bahwa setelah lulus saya harus bekerja di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bisa jadi guru maupun jadi dosen. Tetapi saya juga memperoleh informasi bahwa jika saya terlambat menyelesaikan studi, maka saya tidak akan diangkat menjadi dosen, tetapi akan diangkat menjadi guru di daerah pedalaman. Untuk itulah saya berusaha siang malam secepatnya menyelesaikan skripsi dan studi saya, yang akhirnya menyebabkan saya bisa menyelesaikan studi tepat waktu.

Hasilnya, saya diangkat menjadi dosen. Sedangkan beberapa teman seangkatan, yang juga mahasiswa penerima TID, terpaksa ditempatkan menjadi guru matematika di SMA karena terlambat menyelesaikan studinya. Dalam hal ini, Tuhan telah menciptakan takdirsebagai suatu sistem, yakni jika kita berusaha keras, maka kita akan mampu menyelesaikan studi tepat waktu, dan akhirnya memperoleh hasil yang diharapkan pula.

Memandang takdir sebagai suatu sistem, bukan sebagai hasil akhir, akan membawa kita pada usaha optimal untuk mencapai harapan dan keinginan-keinginan kita. Jika ternyata usaha kita sudah optimal, tetapi hasil yang kita capai masih belum sesuai harapan, maka hal itu juga merupakan sistem takdir. Karena Tuhan juga menciptakan sistem takdir yang lain, mungkin sedikit dari sistem takdir itu,  bahwa tidak semua usaha yang kita lakukan itu berhasil dengan baik. Wallahu’alam.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending