Connect with us

Kolom

Tampak Cerdas VS Tampak Bodoh

Pada saat ada pertanyaan, kita cukup memberi kode dengan menyilangkan kedua tangan yang melambangkan bahwa kita tidak faham pertanyaanya

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Jika kita  bepergian ke luar negeri, maka hal lazim yang kita temui adalah pemeriksaan imigrasi, baik pada saat kita ke luar ataupun masuk dalam sebuah negara. Pemeriksaan tersebut umumnya berupa pengecekan paspor, visa, dan dokumen lain yang dibutuhkan. Pada beberapa negara misalnya, mereka mewajibkan adanya dokumen bahwa kita sudah divaksin terhadap beberapa jenis virus atau penyakit tertentu seperti Meningitis. Sementara pada beberapa negara lain, menerapkan sistem visa on arrival, artinya visanya kita urus pada saat kedatangan di tempat tujuan.

Pada beberapa negara, juga menerapkan kebijakan bebas visa. Dengan berbedanya kebijakan setiap negara, maka tingkat kerumitan pemeriksaan imigrasi setiap negara juga berbeda beda.

Sebagai orang yang beberapa kali bepergian ke luar negeri, saya merasa bahwa pemeriksaan imigrasi di beberapa negara sangatlah rumit. Sebagai contoh adalah pemeriksaan imigrasi di Israel. Ketika pada bulan Mei-Juni 2015, saya bersama rombongan, masuk ke Israel melalui Allenby Brigde, yang oleh orang Yordania disebut sebagai jembatan King Husein, yang membentang di sungai Yordan dan memisahkan wilayah Israel dan Yordania.

Jembatan ini menjadi semacam border antara Yordania dan Israel. Pada beberapa negara umumnya, pemeriksaan imigrasi tidak akan memakan waktu lama. Dengan sistem yang berbasis teknologi informasi yang menghubungkan data perorangan ke seluruh dunia, seharusnya pemeriksaan imigrasi bisa berjalan cepat. Umumnya pada saat pemeriksaan paspor dan visa, kita cukup menyerahkan dokumen dokumen tersebut di loket imigrasi, dicocokkan wajahnya oleh petugas, kode atau barcode yang ada pada paspor dan visanya terbaca oleh sistem komputer, maka selesailah pemeriksaan imigrasi.

Tetapi hal itu tidak terjadi pada pemeriksaan imigrasi di Israel. Pemeriksaan imigrasi di Israel terdiri dari 3 lapis. Pada lapis pertama, pemeriksaan dilakukan di saat akan masuk border, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan barang bawaan. Sedangkan pemeriksaan yang kedua  dan ketiga dilakukan di dalam border dan pada saat akan keluar dari border.

Bisa dibayangkan tingkat kerumitan pemeriksaan yang kita hadapi, karena pada umumnya, pemeriksaan imigrasi hanya 1 atau 2 lapis. Uniknya lagi di Israel, petugas imigrasi akan menanyakan banyak hal tentang diri kita. Dari menanyakan nama, nama orangtua, nama kakek, nomor telepon, sampai dengan alamat email. Bisa kita bayangkan jika ada anggota rombongan yang jarang atau tidak pernah menggunakan email, maka akan sangat kesulitan menghadapi petugas imigrasi. Dengan banyaknya pertanyaan, maka pemeriksaan di imigrasi Israel makan waktu relatif lama dibandingkan pemeriksaan di negara lain.

Meskipun demikian, orang Indonesia selalu memiliki cara jitu untuk mengatasi kerumitan pemeriksaan imigrasi Israel. Caranya ? Hanya dengan berpura pura bodoh dan tidak faham tentang apa yang ditanyakan.  Pada saat ada pertanyaan, kita cukup memberi kode dengan menyilangkan kedua tangan yang melambangkan bahwa kita tidak faham pertanyaanya, tentu saja dibarengi dengan mimik wajah yang memelas dan tampak bodoh tadi. Bahkan saya lihat, sebagian besar orang orang yang tidak mengerti bahasa Inggris, melalui pemeriksaan lebih  cepat dengan trik itu. Tampaknya para petugas imigrasi tidak mau berlama lama bertanya, karena tokh antara pertanyaan dengan jawabannya tidak akan nyambung.

Dari catatan ini, saya jadi ingat pesan pesan saya ke mahasiswa calon guru yang sering saya ajaf. Saya sering katakan pada mereka bahwa, sebagai guru, pada saat mengajar di depan kelas, kita harus tampak cerdas dan tidak tampak bodoh untuk meningkatkan kewibawaan kiya sebagai guru. Akan tetapi, setelah saya mengalami pemeriksaan di imigrsi Israel, maka saya akan katakan ke mahasiswa saya, bahwa pada saat pemeriksaan di imigrasi Israel, kita harus menjadi tampak bodoh dan jangan tampak cerdas.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending