Connect with us

Kolom

Teapot Diplomacy

Diplomasi dan komunikasi bertumpu pada kesungguhan dan keikhlasan kita, khususnya untuk menerima orang lain apa adanya, dengan tidak berusaha menggurui dan mengintimidasi.

Published

on

Penulis : Dr. H. Bulkani, M.Pd*

Saat saya berkunjung ke Amerika Serikat awal tahun 2014 yang lalu, saya berkenalan dengan seorang teman, namanya Charlie. Ia adalah seorang staf lepas yang bekerja di Kementerian Luar Negeri Amerika, Washington DC. Charlie  bekerja sebagai host yang mengatur kunjungan tamu-tamu Kementerian Luarnegeri Amerika Serikat, khususnya melalui program International Visitor Leadership Program (IVLP), yang mana saya diundang melalui program itu. Sebagai penyelenggara program, tentu Charlie berkesempatan pula untuk berkunjung ke negara-negara di luar Amerika Serikat, untuk melakukan sosialisasi sekaligus penjaringan terhadap calon peserta dan penerima award IVLP.

Ada yang menarik tentang Charlie. Ke mana-mana ia selalu membawa teapot, yakni sebuah poci kecil  yang biasa digunakan masyarakat Asia untuk minum teh. Di setiap kesempatan dalam sesi foto, sekalipun foto resmi, Charlie selalu mengeluarkan teapot dan memegangnya ketika di foto. Charlie menyebut aksinya sebagai teapot diplomacy, atau diplomasi melalui teapot. Pada sesi pengambilan foto kami, saya dan teman-teman bersama Charlie di depan gedung Senat dan gedung Pengadilan Amerika di Washington DC, Charlie juga mengeluarkan teapotnya, dan kami dengan sukarela berfoto sambil memegang teapot.

Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika berfoto bersama Charlie dengan teapotnya, terutama ketika kita tahu bahwa Charlie telah mengumpulkan ratusan fotonya dengan banyak tokoh di seluruh dunia yang pernah dikunjunginya, tentu saja sambil memegang teapot kesayangannya. Apalagi ia berjanji untuk mengabadikan foto kami peserta IVLP dari Indonesia dalam buku kecil yang akan ia terbitkan tentang teapot diplomacy tersebut.

Ketika saya kembali ke Indonesia beberapa saat setelah itu, saya amati kembali foto kami saat memegang teapot tersebut, saya jadi teringat Charlie. Tampak keikhlasan yang mendalam tergambar dari wajah dan tingkah laku Charlie dalam berkomunikasi.Terbayang lagi ketika  Charlie dengan bangga mengeluarkan teapot miliknya, kemudian dengan sopan ia meminta setiap tamunya berpose sambil memegang benda kesayangannya tersebut, lalu “klik”, fotopun diambil dengan senyuman semua orang. Aneh memang, sebuah teapot bisa membuat kenangan khusus tentang Charlie.

Ternyata, sebuah poci,  benda kecil yang biasa digunakan masyarakat Asia sebagai salah satu peralatan dalam minum teh, dapat dieksplorasi potensinya dengan baik oleh Charlie, sebagai alat diplomasi. Teapot, saya kira, dapat melambangkan keakraban, kebersamaan, kekeluargaan. Bukankah pada sebagian besar kultur di Asia, keakraban muncul saat kita minum teh. Di Jepang misalnya, jamuan minum teh dianggap sebagai jamuan kehormatan bagi tamu yang datang berkunjung, sebagai sarana untuk mendekatkan perasaan atara tuan rumah dan tamu.

Bahkan, teapot sering melambangkan kesucian rasa. Pernahkan kita memperhatikan alat yang digunakan masyarakat di Kalimantan Timur, Selatan dan Tengah ketika menyajikan air zam-zam saat kita berkunjung kepada sanak famili atau kenalan yang baru datang dari tanah suci ?. Sebagian besar menyajikannya dengan teapot yang diisi air zam-zam, beserta cangkir-cangkir kecil untuk menuang air zam-zam tersebut.

Terlepas dari falsafah yang terkandung di balik teapot tersebut, saya kira semua benda dapat kita jadikan sebagai alat diplomasi dan komunikasi.

Diplomasi dan komunikasi bertumpu pada kesungguhan dan keikhlasan kita, khususnya untuk menerima orang lain apa adanya, dengan tidak berusaha menggurui dan mengintimidasi. Diplomasi dan komunikasi juga bertopang pada keikhlasan kita untuk mengakui kebenaran atau bahkan kehebatan orang lain. Itulah yang di dalam Islam merupakan unsur penting silaturahim.

Sedangkan teapot, atau apapun benda yang kita bawa sebagai alat, hanya merupakan asesoris yang memudahkan orang lain mengingat kita, karena telah menjadi ikon bagi diri kita. Kita bisa membawa benda apa saja, dan selalu membawanya setiap ada momen penting, terutama saat sesi berfoto, sebagai alat dilpomasi dan komunikasi. Tetapi yang penting adalah, benda yang kita bawa itu telah mampu merepresentasikan keikhlasan jiwa  dan ketulusan rasa kita dalam berkomunikasi. Mungkin kita bisa menciptakan batik diplomacy, lawung diplomacy, rotan diplomacy, atau bahkan akik diplomacy, selama kita konsisten menggunakannya sebagai ikon diri kita, dan kita faham betul bahwa ikon itu telah mewakili ketulusan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.

(Penulis adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya).

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending