Connect with us

Kolom

Luqman, MORA dan Charles Darwin University Australia

Cah Tulungagung dan Negeri Aborigin

Published

on

Seorang kawan memaksaku menuliskan perjalanan hidupku. Siapa aku? Aku hanya “ratik wara”. Inspirasi apa yang diambil? Setidaknya buat oloh (orang) Kalimantan. Udahlah tulis aja. Dijanjikan setenar Raditya Dika KW 14, yah udah lah. Kutulis. Disela-sela kesuntukanku menatap layar laptop di negeri orang.

Namaku Luqman Baehaqi. Aku lahir di Tulungagung Jawa Timur 40 tahun lalu. Sejak usia 2 tahun, orangtua merantau ke tanah ini. Palangka Raya. Ku habiskan masa kanak-kanak di kota berpasir ini. Sekolah di SD Palangka 2 (1986-1992), SMPN 3 (1992-1995). Selepas SMP di Palangka Raya ku melanjutkan studi ke PM Darussalam Gontor Ponorogo (1995-1999). Masa pengabdianku di PM Darul Hikmah Tulungagung Jawa Timur (2000). Tahun 2001, aku memutuskan kuliah. Aku diterima SPMB Sastra Inggris di Universitas Negeri Surakarta (UNS) pada usia 21 tahun. Paling tua seangkatan. Tak heran mereka memanggilku simbah atau eyang. Aku suka versi yang terakhir. Terdengar mesra di jiwa bila ada remaja wanita, memanggil. “Yang…yang…”.

Kau tau kan bagaimana rasanya anak pesantren masuk kuliah? Uforia. Semua tampak indah. Wanita adalah keindahan. Ku senang Norma, ku senang Winda, Amalia, Murni, Rosi, sebatas senang. Tak lebih. Penolakan cinta adalah bagian indahnya. Bahkan sebelum tahap penembakan, aku ditolak. Bagian ini yang selalu ku syukuri. Jomblo itu kemuliaan.

Di Palangka Raya, bapakku wirausahawan. Beliau termasuk orang pertama yang mengelola bengkel las di Palangka Raya. Kembali ke tahun 1983. Aku tahu, orangtua lain mungkin sudah melakukan kaderisasi anak-anaknya untuk mengambil tampuk kuasa bisnis keluarga. Tapi aku tak tertarik. Tak ada bakat. Suatu ketika aku memutuskan belajar ilmu las. Aku tak tahan perihnya api tapi lebih perih lagi kritikan bapak. Dikritik dihadapan khalayak ramai itu bikin gak mood. Ini penting. Mood. Emosi. Kecintaan. Itu faktor penting menguasai ilmu dan ketrampilan. Pelajaran pertama.

Ah singkat cerita, aku lebih tertarik dunia pendidikan. Aku mengajar sana sini. Aku pernah mengajar di Pesantren Hidayatul Insan milik Ustadz Harmain Ibrohim pada 2006. Di Sony Sugema College milik Pak Rizki Mahendra, selama 2 tahun 2006-2008. Mengkursus privat anak-anak Palangka Raya 2006-2008. Sampai aku diterima bekerja di STAIN Palangka Raya pertengahan tahun 2006. Pak Syamsuddin mempertemukanku dengan Pak Abdul Qodir, dosen STAIN Palangka Raya, disuatu pagi di bengkelnya di jalan G.Obos. Dan sisanya adalah sejarah.

Aku diterima menjadi dosen. Gaji pertamaku Rp. 350.000. Sedikit. No problem. Pengalaman dan passion bagiku yang penting.

Hari pertama mengajar adalah hari paling ribet. Ribet persiapan. Ribet baju apa yang cocok. Sepatu apa yang matching. Gaya jalan bagaimana yang kece badai. Cara menengok bagaimana yang elegan. Semua ku simulasikan. Maklum masih muda. Jomblo pula. Cari perhatian mahasiswi yang imut-imut itu penting.

Ups. bagian ini kuceritakan lain kali saja. Pada topik tentang “Romantika Dosen Muda Keren” ehm.

Aku menikmati masa mengajar dan menimba pengalaman. Semua kepercayaan ku sanggupi. Walau rupiah tak seberapa.

Tahun 2007 aku dipercaya menjadi pengelola asrama mahasiswa. Tantangan. Bayangkan. Seorang pemuda tampan dan jomblo diamanahi menjadi pembina asrama mahasiswa. Godaan datang silih berganti. Sweet exit. Tahun 2008 mendapat beasiswa S2 di Universitas Negeri Malang. Terimakasih kepada Pak Sabarun, kawanku, yang sukses memaksaku. Kadang masa depan ditentukan oleh satu hal sepele. Desakan kawan.

Pelajaran ke 26. Berfikir positif jangan meremehkan. Selama itu hal baik bukan maksiat. Lakukan. You’ll never know what ahead of you. Studi S2 kutempuh tepat waktu dua tahun. Sering ke menerawang, jika tak ada beasiswa mana mungkin ada hasratku kuliah dan kuliah. Beasiswa terbaik adalah apapun itu yang tidak membebani orangtuamu.

Melompat langsung ke tahun 2019

Niat kuliah S3 keluar negeri sudah kependam sejak tahun 2016. Kesibukan membesarkan lembaga (alih status STAIN menjadi IAIN Palangka Raya, akreditasi institusi perdana, dan lainnya bersama tim yang dipimpin rektor enerjik Dr. Ibnu AS Pelu, SH, MH, harapan cari beasiswa S3 sering tergeser kepentingan lembaga.

Sejak tahun 2017 aku mempelajari tema riset apa yang terkini. Aku berniat akan membaca ratusan jurnal artikel. Sudah kukumpulkan. Ini penting. Kamu harus pastikan tidak ketinggalan jaman pada area yang akan kamu teliti. Pada perjalannya niat sekedar niat. Kesibukan kantor dan lainnya menyisakan kelelahan. Tak ada space belajar intensif.

Walaupun belum ada persetujuan dari pimpinan, mulai tahun itu pula misi kujalankan. Email-email kukirimkan ke Perguruan Tinggi yang ku suka. Ku pilih sebuah perguruan tinggi di Spanyol. Universitate de Barcelona. Pragmatis. Aku pengen bisa menonton El Clasico di Camp Nou Stadium. Walaupun aku fans Real Madrid, aku suka Lionel Messi.

Kampus di Barcelona menolak. Judul risetku terlalu pasaran

Lalu kucoba ke Inggris. University of Manchester. Kalo suntuk kuliah bisa membolang ke Old Trafford. Pasti keren. Berselfie di Theater of Dream bisa bikin nangis pendukung Kalteng Putra atau Arema Malang. Hehe. Niat buruk gagal.

Kegagalan demi kegagalan berlanjut. Dari semua kegagalan itu aku menyalahkan persiapanku yang tidak serius. Aku tipe manusia yang harus mengerjakan sesuatu fokus satu persatu. Multitasking bisa tapi hasilnya tak pernah optimal. Kualihkan target ke universitas di Australia. Beberapa supervisor merespon positif. Mereka bersedia membimbing dengan judul riset yang kuajukan. Tapi aku tetap belum bisa fokus persiapan. Apalagi diwaktu bersamaan aku juga harus mempersiapkan IELTS. Bukan TOEFL tapi IELTS.

Band score minimum beasiswa yang ku incar adalah 6.5 overall. Sepertinya gampang. Tapi tanpa persiapan. Mimpi. Setiap pulang kerja, dengan energi separuh jiwa kusempatkan latihan IELTS. Percobaan pertama test di Surabaya gagal. Skorku 6.5 tapi tidak overall. Listeningku cuma 5. Akhirnya setelah 3 kali mencoba test IELTS (biaya sekali tes Rp. 2.900.000-3.000.000), aku baru berhasil walaupun tidak puas. Seharusnya band 7-7.5 lebih rasional.

Tapi udahlah. Yang penting lulus. Dengan modal skor IELTS kucoba memasang “tangguk” ke beberapa beasiswa LPDP, fulbright, AAS, Brunei Scholarship, Erasmus Mundus, IDP, MORA. Berhasil di MORA. Alhamdulillah.

Setelah melalui proses birokrasi dan administrasi yang njlimet ruwet khas negara +62, akhirnya…. Pilihan kampusku beraroma pragmatis. Aku cari kampus yang dekat dengan Indonesia. Yang murah harga tiketnya. Aku masih sering kangen Indonesia. Terutama anak istriku. He. Dan terpenting, supervisornya serius siap membimbingku. Kupilih Charles Darwin University. Kampus muda di kota Darwin, North Territory, Australia.

Keberangkatan tolabul ilmi dipercepat. Katanya pemerintah aussie mewajibkan seluruh mahasiswa asing ikut OSPEK! (Termasuk Ph.D student). Padahal sebelumnya gak ikut-ikut ospek juga gak apa, kata teman.

Wallahualam. Awalnya sempat mikir ‘bodo amir’ dengan ospek. Masak iya orang tua masih disuruh lari lari setengah botak cari tanda tangan kakak tingkat? (Hehe..terbayang ospek di Indonesia). Eh, gara-gara nemu kata compulsary dibawah email. Langsung insaf. The power of words.

Sejatinya, jadwal orientasi kampus dilaksanakan tanggal 15-19 Juli 2019 lalu. Berhubung visa baru beres 2 hari sebelumnya plus mendengar bisikan kawan yang bilang gak usah ikut gak apa, saya santai kaya di pantai. Paling cuma penjelasan nama dan letak gedung, menghafal nama dosen dan tendik. Cara bayar SPP. huhh…receh kan.

Kamis sore ada email masuk. Kaget. Saya diwajibkan ikut late orientation tanggal 31 Juli-1 Agustus 2019. LATE ORIENTATION istilah untuk ospek susulan. Alicia, admission officer main ancam, Kalo saya coba-coba bandel gak ikut ospek, siap-siap tanggung konsekuensi ribet di imigrasi. Dia bilang aussie punya sistem informasi terintegrasi mulai dari imigrasi sampai sistem kampus. Eh, Luqman, jangan samakan negaraku dengan negaramu yg serba manual ya… Alamaak… serius amat. Padahal dah terlanjur issued tiket 14 agustus.

Huft…padahal isi ATM masih gelondangan. Beasiswa belum cair. Terpaksa cari talangan. Talangan adalah hutang, kamerad! Pinjam ke siapa yaa….? Terpaksa menengadahkan tangan. Di titik inilah saya merasa siapapun manusia yang bersedia memberi bantuan dana ‘alakadarnya’, dia akan tercatat dalam tinta sejarah kehidupan Luqman Baehaqi.

So hari jum’at (hari ini) bakal banyak yang harus dikerjakan dari pagi sampai malam. Yang terpenting, pamitan ke keluarga dan teman sekantor.

My departure flight will be sunday, 28th July 2019. Inshallah.

Palangka Raya, Insomnia 26 juli 2019.

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending