Connect with us

Opini

Habis Isya, Sandal Dilepas dan Wittgenstein

Dalam diri filosof kita itu kedua pemaknaan itu berkecamuk, meski akhirnya bahasa kedualah yang menang.

Published

on

Oleh: Yunizar Ramadhani*

Saat menyampaikan materinya, seorang pembicara memohon maaf kepada para hadirin karena terlambat datang ke tempat acara di mana ia menjadi pembicara utama. Alasannya, surat permohonan yang ia terima dari panitia tidak jelas menyebutkan tanggal dan waktu acara. Setelah dihubungi pihak panitia barulah ia buru-buru berangkat.

Untuk menambah ketajaman kritiknya terhadap panitia pelaksana acara, pembicara mengungkapkan satu contoh penggunaan bahasa yang menurutnya keliru. Contoh yang justru keliru untuk ditempatkan pada pidatonya.

Saat seseorang mengadakan kenduri dan mengundang para tetangganya ia mengatakan acara akan dilaksanakan sehabis Isya. Bagi pembicara kita tadi, seharusnya pengundang menyebutkan penunjuk waktu yang spesifik, misalnya 20.30 WITA atau 19.30 WIB. Keterangan “habis isya”, katanya, bisa saja tengah malam atau bahkan menjelang subuh sebelum azan fajar berkumandang.

***

Di tengah perjalanan jauh, saya mampir ke sebuah masjid untuk menumpang buang air di toiletnya. Kebetulan masjid itu terletak di tengah sebuah kampung kecil yang rata-rata masyarakatnya adalah petani kelapa sawit.

Saat menuju toilet ada tulisan yang menarik perhatian. “Sandal Dilepas!”, begitu bunyinya. Jika difahami tulisan itu secara harfiah, dalam arti memahami hubungan antara kata-kata dalam kalimat, maka berarti hanya sandal yang harus dilepas, sepatu tidak (waktu itu saya memakai sepatu). Jadi, yang memakai sepatu boleh tetap mengenakan sepatu saat menggunakan toilet dan tempat wudhu.

***

Bahasa adalah sarana bagi makhluk hidup untuk berkomunikasi. Berbeda dengan binatang yang sistem kebahasaannya yang berdasarkan pada insting, bahasa homo sapiens memiliki sistem yang sungguh rumit. Karena kerumitannya itu bahasa manusia terkadang mengandung banyak makna.

Berlapis-lapisnya makna bahasa di satu sisi memungkinkan manusia – yang akalnya memiliki daya imajinatif atau disebut dalam filsafat Islam dengan al-khayal – membangun dan mengembangkan peradabannya, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan menempatkan persoalan.

Berbicara mengenai bahasa, kita tidak dapat melupakan pemikiran Wittgenstein (1889-1951). Filosof Austria ini terkenal dengan bukunya Tractatus Logicus Philosphus yang mengurai tentang pengungkapan dan penggunaan bahasa sehingga bahasa memiliki makna.

Bagi Wittgenstein, apa yang bisa dikatakan harus dapat dijelaskan secara faktual dan apa yang tidak bisa dijelaskan harus ditinggalkan. Dengan demikian, bahasa hanya dapat bermakna apabila ia mampu menggambarkan realitas dan makna bahasa akan timbul dari realitas tersebut. Inilah intisari dari picture theory milik Wittgenstein.

Jika logika ini kita putar balik, maka suatu pernyataan menunjukkan realitas itu sendiri apa adanya. Ungkapan “habis Isya” memang bermakna waktu yang merentang dari awal malam hingga fajar menyingsing di waktu subuh (apakah waktu merupakan realitas bukanlah bahasan dalam tulisan terbatas ini). Adapun perintah “sandal dilepas” bermakna hanya jenis alas kaki tertentu, yaitu sandal, yang wajib dilepas sedangkan sepatu tidak. Jadi, tidak keliru jika seseorang datang ke acara kenduri saat tengah malam atau memakai sepatu jika menggunakan toilet dan memasuki area tempat berwudhu.

Akan tetapi, seperti halnya Imam al-Syafi’i di bidang hukum Islam, Wittgenstein juga memiliki qaul qadim (pernyataan lama) dan qaul jadid (pernyataan baru). Setelah Tractatus ia menerbitkan buku keduanya berjudul Philosophical Investigation. Buku kedua ini lebih merupakan kritik terhadap “teori gambar” yang ia cetuskan sebelumnya. Menurut Wittgenstein, bahasa bukanlah sekedar menggambarkan hakikat atau realitas, namun yang lebih penting adalah bagaimana manusia menggunakan bahasa itu. Teorinya ini dikenal dengan “language game” atau permainan bahasa.

Kita, karena itu, tidaklah mencoba memahami bahasa sebagai gambaran akan realitas, melainkan bagaimana bahasa “dimainkan” atau digunakan dalam kehidupan. Dengan kata lain, bahasa harus difahami sebagai gejala kultural, bukan hasil artikulasi rasional terhadap pengalaman empiris. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah bahwa kita harus memaknai suatu pernyataan dalam sudut pandang konteks dan struktur sosial yang melingkupinya, bukan sekedar memahami pernyataan itu secara harfiah.

Berdasarkan prinsip Wittgenstein yang kedua ini, ungkapan “habis Isya” harus difahami dalam konteks kultural yang melingkupinya. Masyarakat kita umumnya adalah masyarakat yang berkomunikasi berdasarkan tradisi lisan yang tidak terlalu menekankan aspek matematis-rasional dalam pola tuturnya. Sehingga, untuk menuturkan waktu masyakakat kita cenderung tidak menggunakan angka-angka spesifik, melainkan instrumen kultural lain yang paling dekat dengan kehidupan.

Ungkapan “habis Isya” harus difahami sebagai waktu tepat selepas melaksanakan shalat Isya, bukan rentang waktu dari awal malam hingga salat subuh. Untuk lebih spesifik lagi, yang dimaksud sa shalat Isya di sini adalah shalat Isya berjamaah, sehingga undangan kenduri dilaksanakan tepat setelah jama’ah shalat Isya usai melaksanakan shalat dan keluar dari masjid-masjid dan surau-surau. Bukankah hal ini menunjukkan tingkat religiusitas masyarakat kita?

Pembicara kita dalam kisah di awal tulisan ini telah keliru menempatkan permisalan. Kritiknya terhadap waktu habis Isya tidak dapat disandingkan dengan keharusan menuliskan keterangan waktu acara di dalam dokumen administratif. “Habis Isya” adalah bagian dari bahasa yang lahir dari kultur masyarakat – menurut saya inilah hakikat bahasa sebenarnya, sementara waktu dalam dokumen administrasi memang haruslah menggunakan bahasa administrasi yang baku, dapat diukur secara objektif dan disahkan secara resmi.

Beralih ke persoalan “sandal dilepas!”, berdasarkan prinsip Wittgenstein yang kedua pula, peringatan itu harus difahami bahwa yang dimaksud penulisnya adalah “seluruh alas kaki harus dilepas”, bukan hanya sandal. Tentu saja makna bahasa ini berhubungan dengan konteks masyarakat sekitar masjid yang rata-rata adalah para petani kelapa sawit. Boleh jadi, para petani  itu bukanlah orang-orang yang lebih sering mengenakan sandal ketimbang sepatu.

Kita mungkin dapat memaknainya lebih luas lagi. Kita tahu bahwa kaum muslimin harus menanggalkan alas kaki saat beribadah di masjid dan bersuci, sementara sepatu adalah alas kaki yang menyulitkan aktivitas ibadah karena melepas dan memasang sepatu berkali-kali sungguh memakan waktu. Wajar kiranya kaum muslimin kebanyakan mengenakan sandal jika ingin beribadah di masjid – muslim pekerja kantoran pun mengganti alas kakinya dari sepatu ke sandal saat waktu shalat tiba. Maka wajar pula jika yang terbayang di benak pengurus masjid hanyalah sandal dan karena itu ia hanya menuliskan peringatan “sandal dilepas!”.

Arkian, ada dua pemaknaan bahasa berdasarkan filsafat bahasa Wittgenstein. Yang satu bahasa sebagai gambaran realitas sehingga dimaknai berdasarkan apa yang ditutur atau ditulis, yang lain bahasa sebagai permainan konstruksi kultural sehingga dimaknai secara kontekstual. Dalam diri filosof kita itu kedua pemaknaan itu berkecamuk, meski akhirnya bahasa kedualah yang menang. Sepertinya kecamuk bahasa inilah yang salah satunya mendasari pertentangan panjang antara kaum tekstualis-tradisional dan kaum kontektualis-liberal di dunia Islam dalam memahami teks kitab suci mereka.

Kebenaran hanya milik Tuhan semata.

Penulis adalah Alumni Jurusan Akidah-Filsafat IAIN Antasari Banjarmasin, Guru Ponpes Darul Hijrah Putri Martapura

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending