Connect with us

Kolom

Balas Dendam dan Filsafat Kekerasan Rene Girard

Satu-satunya cara untuk memutus rantai kekerasan akibat hasrat balas dendam adalah dengan memberi maaf.

Published

on

Rene Girard. Source americamagazine.org

Oleh: Yunizar Ramadhani*

Ancaman kematian ada di hadapan. Nampaknya sudah tiada lagi kesempatan untuk bertahan hidup. Habil siap menyongsong maut.

Tangannya kokoh. Qabil sudah tak sabar menghantamkan batu besar itu ke kepala saudaranya. Benci, dengki dan dendam memenuhi setiap jengkal jiwanya.

Hatinya mantap. Habil tak sedikitpun merasa gentar. Keteguhan cinta kepada sang abang menguatkan dirinya. Tiba-tiba, kalimat itu keluar dari mulutnya: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

Sayang, tangan Qabil tetap menghujamkan batu keras itu, mencabut nyawa adiknya, tangan yang menghukumnya dengan sejuta sesal.

Sepenggal kisah di atas bukanlah kisah yang asing. Tragedi yang melibatkan dua keturunan Adam dan Hawa itu tertera di dalam Perjanjian Lama Kitab Kejadian Pasal 4 dan al-Qur`an surah al-Ma`idah ayat 27-32.

Masing-masing kitab suci menekankan aspek tertentu dari kisah tersebut. Namun pada dasarnya, Perjanjian Lama dan al-Qur`an memberitakan perihal yang serupa, kejahatan pertama yang dilakukan manusia. Kejahatan yang dilatarbelakangi kebencian, dengki dan dendam yang terbalaskan, lalu berakhir dengan penyesalan.

Balas dendam dapat difahami sebagai “hasrat untuk membalas suatu luka ataupun kesalahan yang diciptakan oleh orang lain, dan seringkali dengan jalan kekerasan (Simon Critchley, 2011, dalam Reza Wattimena, www.rumahfilsafat.com, 10/02/2020). Logika sederhananya, “jika kamu memukul saya, maka saya akan memukul kamu kembali”.

Berdasarkan pengertian ini balas dendam erat kaitannya dengan kekerasan. Kekerasan tidak selalu berupa fisik, melainkan juga kekerasan verbal (hinaan, caci-maki dan lain sebagainya), kekerasan ideologis, kekerasan hukum dan lain-lain. Karena itu, balas dendam bisa dilakukan dengan cara apapun selama bisa membalas sakit hati terhadap orang yang dianggap telah berbuat kesalahan.

Rene Girard (1923-2015), seorang filosof Perancis, dalam bukunya Violence and the Sacred (dalam Sindhunata, 2006) ketika berbicara tentang kekerasan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang punya potensi besar untuk melakukan kekerasan dan sulit menghindar dari hasrat kekerasan itu. Akan tetapi, manusia sadar bahwa kekerasan yang dilakukannya dapat mengundang aksi balas dendam, dan tidak ada satupun manusia yang mau dirinya dijadikan objek balas dendam.

Bangsa-bangsa primitif, kata Girard, selalu dihantui oleh perbuatan balas dendam, sehingga mereka membuat suatu mekanisme yang bersifat relijius untuk menyalurkan hasrat kekerasan mereka dalam bentuk ritus korban. Dalam ritus itu mereka menyembelih korban binatang dan bahkan manusia sebagai pengganti – dalam istilah Girard disebut substitusi – bagi target kebencian dan hasrat kekerasan. Jadi, bagi Girard, ritus korban adalah penyaluran kekerasan, yang boleh jadi didasari oleh motif dendam, tapi tidak menimbulkan pembalasan dendam berkelanjutan.

Hal itu bukan berarti manusia modern tidak dihantui oleh balas dendam. Masyarakat modern juga membangun suatu “ritus” tertentu untuk menghindari pembalasan dendam dan boleh jadi sebagai sarana balas dendam itu sendiri, yakni sistem yuridis berupa hukum atau perundang-undangan.

Melalui sistem hukum dalam suatu lembaga orang dapat melakukan kekerasan dan balas dendam. Hanya saja tindakan balasan itu menyamarkan subjek pelaku kekerasan dengan digantikan oleh hukum yang nantinya memvonis objek yang bersalah. Dengan demikian, dalam sistem hukum seseorang kehilangan hak untuk melakukan tindak kekerasan dan balas dendam karena hak dendamnya telah diserahkan kepada hukum yang diberlakukan.

Begitulah, menurut Girard, dendam ada di hampir setiap kekerasan, baik kekerasan antar individu, kekerasan dalam praktek ritual korban dan kekerasan dalam sistem hukum. Akan tetapi, pada saat yang kritis, ketika perasaan dendam begitu memuncak, ritual korban dan sistem hukum dan peraturan perundang-undangan memperlihatkan respon kekerasan yang sama. Pada saat itulah sulit dibedakan mana balas dendam, mana praktek ritual dan mana sistem hukum.

Kitab suci telah menceritakan kisah kekerasan bermotif balas dendam pertama lewat kisah Qabil (Cain) yang membunuh adiknya Habil (Abel) itu. Selanjutnya kejahatan-kejahatan bermotif balas dendam menghiasi sejarah umat manusia sampai hari ini dan kita juga dihantui dan kadang dikuasai oleh hasrat balas dendam dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, dengan membalas dendam bukan berarti luka di hati akan hilang. Balas dendam justru berpotensi melahirkan rantai kekerasan yang kemungkinan akan berjalan tanpa akhir, jika objek pembalasan dendam itu memendam dendam pula, lalu membalas lagi dan seterusnya. Karena itu, balas dendam adalah perbuatan tercela dipandang dari sudut pandang etis mana saja, baik ajaran normatif agama maupun akal sehat sekalipun.

Satu-satunya cara untuk memutus rantai kekerasan akibat hasrat balas dendam adalah dengan memberi maaf. Perkataan Habil di hadapan Qabil yang sudah siap menghabisi nyawanya adalah gambaran kebesaran hati untuk memberi maaf, sekaligus sebagai upaya untuk memutus mata rantai kekerasan yang diselimuti dendam. Bukankah Pemaaf adalah salah satu sifat Tuhan?!

*) Penulis adalah Guru di Pondok Pesantren Darul Hijrah, alumni Jurusan Aqidah-Filsafat IAIN Antasari Banjarmasin

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending