Connect with us

Opini

Menangkal Virus (Hoax) Corona

Sebagai upaya menangkal virus hoax tersebut adalah juga dengan menyebarkan virus-virus positif melalui pribadi-pribadi literatif.

Published

on

Gambar Ilustrasi. Pixabay – BETANGVOICE.ID

Oleh : Farid Zaky Y, S.Sos., M.Si*

Situasi global kini masih enggan beranjak dari beragam upaya memadamkan wabah Virus Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) yang mulai menebar teror ke negara-negara diluar China. Hingga kini, ada 93 negara yang telah mengonfirmasi kasus positif Covid-19 di negaranya. Mengutip dari www.worldometers.info bahwa data terbaru menunjukkan, ada 107.646 kasus yang tercatat dengan jumlah kematian sebanyak 3.660 di dunia. Dari jumlah infeksi yang dikonfirmasi, 60.922 pasien dinyatakan sembuh. Sementara itu di Indonesia sampai tulisan ini diturunkan sudah ada 6 orang yang dinyatakan positif mengidap Covid-19.

Drama sebelum dan setelah virus ini resmi ‘masuk’ ke Indonesia menghiasi linimasa kita setiap hari. Sebelumnya masyarakat Indonesia sempat dilanda kecemasan tingkat tinggi terkait komunikasi publik pemerintah yang terkesan kurang koordinasi terkait keberadaan virus Covid-19 di Indonesia. Akibatnya persepsi publik pun beragam ada yang mengganggap pemerintah terlalu ‘santai’ dalam menanggapi virus ini, ada juga yang mengkritisi pernyataan pemerintah yang lebih cenderung membahas dampak ekonomi daripada kesehatan masyarakat. Lebih jauh muncul semacam asumsi yang mengatakan para punggawa kabinet presiden kurang memiliki kepekaan untuk memahami psikologi publik yang tergoncang akibat wabah ini.

Pasca Presiden dan Menteri Kesehatan mengumumkan ada WNI yang positif mengidap Covid 19, seketika kecemasan publik bertransformasi menjadi kehebohan (panic game) berupa aksi memborong masker, pembersih tangan hingga sembako yang terjadi di berbagai Kota di Indonesia. Akibatnya para pemburu keuntungan memanfaatkan situasi tersebut yang berakibat pada kelangkaan barang berujung pada melambungnya harga masker di pasaran. Kepanikan tersebut mengaburkan nalar sebagian masyarakat yang dianggap melampaui rasa kemanusiaan antar sesama.

Penulis mengambil sudut untuk mengamati lebih seksama sebaran informasi terkait Covid-19 ini. Masuknya wabah ini ternyata seirama dengan virus hoax yang menyertainya. Bahkan, Menkominfo menyebut telah terdapat sekitar 147 kasus hoax terkait Covid-19 yang mewujud dalam bentuk konten, foto, video, tangkapan layar (screenshot) sampai pada pemelintiran berita. Virus Covid-19 tidak hanya menyerang daya tahan tubuh kita saja, tetapi juga menguji daya literasi digital kita. Arus informasi dalam rimba raya sosial media kini seakan berwajah seperti labirin membawa kita tersesat dalam pencarian kebenaran informasi yang hakiki.

Pakar KW?

Ulah sebagian besar oknum yang tidak bertanggungjawab dalam menyebarkan konten-konten hoax di sosial media semakin membuat kita ‘gemas’. Ironisnya, para buzzer penyebar hoax yang terkait Virus ini sejatinya ternyata tidak mempunyai latar belakang keilmuan yang relevan dengan kesehatan atau yang lebih spesifik kepakaran pada virus Covid-19.

Fenomena ini saya kira relevan dengan gambaran Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise yang menyoroti secara tajam tentang fenomena sosial media kita dewasa ini. Dia mengatakan bahwa kini hampir seperti evolusi terbalik, kita seakan menjauhi pengetahuan yang teruji dan mundur menuju lakon mitos yang disampaikan dari mulut ke mulut. Semua orang kini bisa menjadi pakar dadakan.

Penulis setidaknya mendapati beberapa informasi terkait Virus Covid-19 ini yang ternyata mitos semata. Salah satunya adalah informasi yang tersebar bahwa tidak aman menerima paket dari China, Virus Covid 19 memang diklaim bisa hidup menempel cukup lama pada benda mati. Namun demikian, menurut Organisasi Kesehatan Dunia / World Organization Health (WHO) belum ada peneltian spesifik yang mengukur kemampuan bertahan virus Covid-19, sehingga informasi tersebut hanyalah mitos belaka. Maka paket, surat ataupun bahan makanan dari China masihlah aman untuk diterima.

Lebih jauh Nichols mengatakan bahwa perkembangan teknologi informasi dewasa ini membawa sebuah paradoks besar yaitu manusia tidak lagi memiliki argumentasi yang lahir berdasarkan data dan fakta. Secara ekstrem dia mengatakan bahwa kepakaran itu telah mati ditelan oleh ‘banjir’ informasi yang berupa kebenaran subjektif sehingga berujung pada kabar bohong (hoax) semata. Para buzzer ala seorang pakar KW memanfaatkan isu Covid 19 demi profit personal dengan menegasikan prinsip informasi yang objektif bersandar pada data dan fakta yang akurat.

Seiring waktu kini data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah silih berganti menghampiri publik. Sinar optimisme mulai terbit di ufuk negeri ini untuk bergandengan tangan bersama melawan virus Covid-19. Mengutip kajian dari WHO dan beberapa jurnal kesehatan, ternyata ditemukan bahwa tingkat kematian virus Covid-19 hanya sebesar 3,3 %. Angka tersebut masih jauh bila dibandingkan kasus pandemik lainnya seperti SARS (9,6 %), MERS (34,4 %), Ebola (40,4 %) dan flu burung (77,6 %).

I’tibar dari wabah virus Covid-19 adalah masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya budaya menjaga kebersihan terutama tangan, bahkan cairan antiseptik yang dulu di cap sebagai barang ‘mewah nan lebay’, kini keberadaannya menjadi buruan utama masyarakat. Virus Covid-19 juga mengajarkan kita kembali tentang etika berupa penggunaan masker medis pada saat sakit untuk mencegah penularan penyakit kepada orang lain dan menunjukan empati berupa menutup mulut ketika bersin maupun batuk jika berada ditengah keramaian.

Sudah sepatutnya yang juga harus kita cemaskan adalah sebaran masif virus hoax tentang Covid-19. Informasi sesat lagi menyesatkan tersebut bagaikan bom waktu yang mempunyai daya ledak sungguh besar bagi peradaban digital kita. Sebagai upaya menangkal virus hoax tersebut adalah juga dengan menyebarkan virus-virus positif melalui pribadi-pribadi literatif. Pribadi literatif ini tumbuh dimulai dari diri sendiri untuk terus menumbuhkan budaya kritis dalam membaca berita di sosial media. Prinsip cek dan ricek informasi harus menjadi arus utama. Perlu kesadaran kolektif untuk menjadikan virus hoax sebagai musuh bersama (common enemy). Peran sinergis nan kolaboratif antar Keluarga, Pemerintah, dan Sekolah/Universitas sangat dibutuhkan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi digital yang membuat kita kebal dan tidak mudah terinfeksi oleh virus hoax.

*Penulis adalah Dosen FISIPOL UMP & Peneliti Muda pada Institute of Regional Development & Political Studies (IRDEPoS)

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending