Connect with us

Kolom

Petani, Profesi Yang Tidak Dirindukan Sarjana

Wajar saja jika para sarjana terutama sarjana pertanian lebih memilih kerja di perbankan atau sektor-sektor lain yang lebih menjanjikan daripada berprofesi sebagai petani. Padahal lahan-lahan di Indonesia perlu “sentuhan” tangan-tangan petani berpendidikan dengan segala ilmu dan teknologi berkemajuan.

Published

on

Oleh : Asep Eko DS (ASEV)*

Beberapa waktu yang lalu, saya berdikusi dengan seorang sahabat. Dia mengatakan begini, “Mas, coba perhatikan, jika orang kuliah di Fakultas Keguruan, maka dengan bangga mereka lulus akan mendirikan lembaga pendidikan atau les private”, jelasnya.

Dijelaskannya lagi, “jika orang kuliah di Fakultas Hukum, maka dengan percaya dirinya mereka akan bangga untuk menjadi Pengacara (lawyer). Jika orang tersebut kuliah di Fakultas Ekonomi, saat mereka lulus, mereka akan bangga menjadi seorang Akuntan Publik”.

“Nah, kalau mereka kuliah di Fakultas Pertanian, saat mereka lulus, sebagian besar atau bahkan hampir tidak ada yang mau jadi petani”, sambungnya.

Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pertanian di Indonesia saat ini sudah pada tahap yang mengkhawatirkan, Indonesia sedang menghadapi krisis petani. Karena hampir 70% petani yang ada sekarang adalah petani tua, petani konvensional, dan mereka bertani karena dihadapkan pada keadaan yang memaksa karena tidak ada pekerjaan lain.

Bahkan petani-petani sekarang berpesan kepada anak-anaknya untuk sekolah yang tinggi dan pintar agak tidak menjadi petani seperti dirinya. Karena petani itu pekerjaan yang melelahkan. Petani adalah profesi yang tidak menjanjikan kesejahteraan.

Ironis memang, padahal dari sejak dulu, Indonesia dikenal dengan negara agraris. Yang memiliki tanah yang luar biasa suburnya. Sampai-sampai ada lirik lagu yang mengatakan jika tongkat dilempar saja udah jadi bahan makanan, tapi mengalami krisis petani.

Hal ini tidak bsa dianggap remeh, karena dalam keadaan apa dan bagaimanapun proses pertanian harus tetap berjalan, karena selama manusia ini ada, dia perlu makan, dan makanan yang di makan inilah yang dihasilkan dari proses pertanian.

Yang cukup menyedihkan bahwa, Indonesia yang memiliki tanah yang subur dan luas ini, masih mengimpor beras, dan makanan lainnya dari negara tetangga seperti Vietnam, Thailand dan lainnya. Yang notabene lahan pertanian lebih sempit dari Indonesia. Bayangkan saja untuk kedelai, kita masih harus impor dari USA.

Tapi jika selama profesi petani di Indonesia masih dianggap sebagai profesi rendahan dan masih dianggap sebuah profesi yang tidak menjamin kesejahteraan, maka pertanian di Indonesia akan menghilang secara perlahan. Setidaknya 10 atau 20 tahun yang akan datang akan mulai terasa dampaknya.

Wajar saja jika para sarjana terutama sarjana pertanian lebih memilih kerja di perbankan atau sektor-sektor lain yang lebih menjanjikan daripada berprofesi sebagai petani. Padahal lahan-lahan di Indonesia perlu “sentuhan” tangan-tangan petani berpendidikan dengan segala ilmu dan teknologi berkemajuan. Dan juga memang proses alam seperti pergantian petani pasti akan terjadi. Petani-petani konvensional yang masih bertahan saat ini harapannya dapat digantikan oleh petani-petani milenial dan modern.

Setidaknya perlu ada jaminan dan braonstorming dari pemerintah bahwa profesi petani adalah profesi yang juga menjanjikan kesejahteraan. Langkah kongkrit yang bisa diambil adalah dengan melindungi harga produk pertanian, seperti negara Jepang yang menjamin harga hasil pertanian dari petani. Saya lebih setuju dengan langkah ini, dari pada pemerintah membantu petani dengan pupuk bersubsidi.

*Penulis adalah tokoh petani milenial Kalteng

BETANGVOICE.ID hadir sebagai wadah literasi millenial dengan berita dan informasi yang berbeda. Kami berupaya menjawab segala literasi masyarakat. BETANGVOICE.ID diterbitkan oleh PT. Media Opini Kalteng.

Advertisement

Trending